Oleh Rizki
Setiawan
Kemiskinan di
Indonesia Dipandang dari Teori Modernisasi
Kemiskinan
sangat berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia. Kemiskinan muncul karena
sumber daya manusia tidak berkualitas, demikian pula sebalik-nya. Secara
ekonomi kemiskinan dapat diartikan sebagai kekurangan sumber daya yang dapat
digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat., maksud dari sumber daya
disini yaitu sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kemudian ada juga yang
disebut dengan kemiskinan relative yaitu kemiskinan yang yang ditentukan oleh
perkembangan kebutuhan masyarakat, tidak hanya kebutuhan fisik saja seperti
makanan, tetapi juga kebutuhan pada saat itu seperti pendidikan, kesehatan,
dll. Lebih lanjut, kemiskinan disebabkan oleh adanya faktor-faktor penghambat
sehingga menghalangi seseorang memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang
tersedia, antara lain.
Pertama, faktor-faktor
yang datang dari luar kemampuan seseorang misalnya dengan adanya
peraturan-peraturan resmi yang dapat mencegah seseorang memanfaatkan kesempatan
yang ada. Kedua, faktor penghambat yang datang dari dalam diri
seseorang atau sekelompok orang, misalnya rendahnya tingkat pendidikan.
Lewis
(1969) menggambarkan kemiskinan ini muncul karena sekelompok masyarakat
tidak terintegrasi dengan masyarakat luas, apatis, cenderung menyerah pada
nasib, tingkat pendidikan rendah, serta tidak mempunyai daya juang dan
kemampuan untuk memikirkan masa depan. Sementara itu, secara umum kemiskinan
diartikan sebagai berada dibawah garis kemiskinan. Sedangkan garis kemiskinan
di Indonesia sendiri pada Februari 2005 adalah Rp.129.108,- per kapita per bulan.
Kemudian terjadi peningkatan sebesar 18,39% selama Februari 2005-Maret 2006
menjadi Rp 152.847,- per kapita per bulan.
Teori
modernisasi telah dengan jelas memandang masalah yang ada di dalam (internal)
suatu negara lah yang menimbulkan permasalahan pembangunan di negara dunia
ketiga, yang dalam hal ini adalah kemiskinan. Teori Modernisasi secara implisit
memberikan pembenaran hubungan kekuatan yang bertolak belakang antara
masyarakat tradisional dan modern. Sementara itu, di Indonesia masih terdapat banyak
hal-hal yang masih bersifat tradisional seperti agama maupun budaya tradisional
yang masih mengakar dengan kuat.
Hal ini dapat
dilihat dari banyaknya acara televisi yang berbau mistis, partai-partai agama,
institusi-institusi keagamaan, serta pola berfikir masyarakat yang belum
rasional. Maka yang dianggap sebagai masalah internal tersebut adalah budaya
dan pranata sosial yang masih bersifat tradisional yang harus segera
dihilangkan. Oleh karena itu diperlukan modernisasi sebagai arah pembangunan dimana
Amerika serikat dan negara-negara Eropa Barat yang dianggap sebagai negara maju
digunakan sebagai acuan model pembangunan.
Selain itu,
terlihat juga bahwa terdapat banyak kekurangan yang berasal dari dalam
(internal) pemerintahan Indonesia sendiri, yang terlihat dengan keotoriteran
rezim ore baru serta KKN yang kerap terjadi di dalamnya, kesengsaraan rakyat
Indonesia, serta minimnya perlindungan negara terhadap warga negaranya yang
berlangsung selama 32 tahun. Kemudian dalam film the new rules in the world
ditunjukkan dengan memberikan contoh pada rendahnya gaji buruh pada perusahaan
asing seperti Nike dan GAP yang notabene sebuah perusahaan yang maju di
bidang-nya dan mendapatkan laba yang begitu besar dari produksinya.
Kemudian, teori
modernisasi menilai komunisme sebagai ancaman pem-bangunan negara dunia ketiga.
Jika negara dunia ketiga hendak melakukan moder-nisasi, mereka perlu menempuh
arah yang telah dijalani Amerika serikat dan negara-negara Eropa Barat, dan
oleh karena itu hendaknya mereka menjauhi komunisme. Untuk tujuan ini, negara
dunia ketiga harus melakukan pembangunan ekonomi, meninggalkan dan mengganti
nilai-nilai tradisional, dan melembagakan demokrasi politik.
Teori
modernisasi juga melihat bahwa untuk melakukan pembangunan ekonomi negara dunia
ketiga, sangat diperlukan bantuan dari negara asing, khususnya Amerika Serikat.
Karena yang diperlukan negara dunia ketiga adalah kebutuhan investasi produktif
dan pengenalan nilai-nilai modern, maka negara maju dapat membantu dengan
mengirimkan tenaga ahli, mendorong para pengusaha untuk melakukan investasi di
negara dunia ketiga, dan memberikan bantuan untuk negara dunia ketiga.
Teori
Modernisasi Tidak Relevan Lagi untuk Menjelaskan Kemiskinan di Indonesia
Namun ternyata
Teori modernisasi sekarang ini dianggap sudah tidak relevan lagi untuk menjawab
permasalahan kemiskinan di Indonesia. Hal ini di dapat dari banyak penelitian
yang membawa kesimpulan bahwa ternyata tidak semua budaya tradisional itu
bersifat negatif, namun banyak juga yang bersifat positif. Hal ini dapat
dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dove tentang budaya lokal dan
pembangunan di Indonesia. Selain itu, paham modernisasi yang mengedepankan
intervensi negara asing serta pembangunan yang mengikuti model Amerika maupun
Negara-Negara Eropa Barat telah terbukti gagal. Hutang yang melilit Indonesia
hampir tidak bisa di bayar, yang terlihat pada sebagian besar pendapatan
nasional yang dipergunakan untuk membayar hutang luar negeri.
Hutang luar
negeri Indonesia saat ini menurut data BPS (Badan Pusat Statistik Nasional
Indonesia) terhitung pada tahun 2004 mencapai US$136.679 miliar (bila 1$= Rp.
9000,- utang Indonesia sudah mencapai kisaran Rp. 1.230 trilyun), utang
tersebut terbagi menjadi dua, yaitu US$ 78,6 miliar utang pemerintah dan US$ 52
miliar utang swasta. Selain utang Luar Negeri, Indonesia juga mempunyai utang
dalam negeri yang jumlahnya mencapai Rp. 650 trilyun. Jika dihitung setiap
orangnya, penduduk Indonesia mempunyai utang perkapita sebesar US$1000 atau Rp.
10 juta per orang. Beban inilah yang sekarang dipikul oleh 40 juta orang
masyarakat miskin termasuk para bayi yang baru lahir. BPS menyebutkan bahwa
pertumbuhan ekonomi secara nasional masih terlalu rendah, yaitu hanya 3,7
persen pada tahun 2002. Akibatnya angka pengangguran terus meningkat yang pada
pertengahan tahun 2002 mencapai angka sekitar 9,13 juta jiwa. Kemudian selama
tahun 2006 angka kemiskinan meningkat menjadi 17,8 persen. Hal ini tampak pada
laju pertumbuhan penduduk yang telah mengalami penurunan, yaitu dari 2,3% pada
1980 menjadi 1,3% pada 2006. Sementara itu angka kelahiran pada tahun 1980
sebesar 4,68% turun menjadi 2,21% pada tahun 2006. Demikian juga halnya dengan
angka kematian menurun dari 10,9% pada 2004 menjadi 3,08% pada 2006.
Sementara itu,
di bidang ketenagakerjaan pengangguran terbuka mengalami penurunan, yaitu pada
februari 2005 sebanyak 10,85 juta jiwa, sementara November 2005 sebesar 11,990
juta jiwa. Pada bulanFebruari 2006 tercatat penurunan sebanyak 11,10 juta jiwa
dan pada Agustus 2006 sebesar 10,93 juta jiwa. Angka pengangguran sudah
mencapai 38,3 juta jiwa. Dari angka tersebut tercatat 8,1 juta jiwa yang
menganggur total atau tidak bekerja sama sekali atau tidak mempunyai
penghasilan. Sementara yang 30,2 juta jiwa itu setengah menganggur atau mereka
yang bekerja dibawah 35 jam. Dari segi pendidikannya juga terlihat, menurut
pendidikan angkatan kerja 59,01 persen adalah tidak tamat SD dan tamat SD,
36,04 persen pendidikan menengah (SLTP, SLTA, atau Sekolah Kejuruan), dan 4,9
persen. pendidikan tinggi (Diploma III). Dengan kondisi seperti ini akan sulit
untuk mendapatkan SDM yang berkualitas. Jika dilihat dari ranking Human
Development Index (HDI) menyebutkan bahwa Indonesia berada di posisi 102, di
bawah negara Asia lainnya seperti Philiphina, Malaysia dan Singapura.
Penjelasan Teori
Ketergantungan tentang Hutang Luar Negeri Indonesia
Salah satu
permasalahan yang di alami negara dunia ketiga seperti Indonesia sekarang ini
adalah seperti hutang negara dunia ketiga terhadap lembaga “bantuan”, yang
secara tidak langsung mengakibatkan eksploitasi berlebihan oleh negara maju
terhadap negara dunia ketiga yang hanya sedikit sekali memberikan keuntungan
pada negara dunia ketiga (data mengenai besar hutang indonesia dijabarkan di atas).
Paham kapitalisme yang telah mengakar kuat pada negara maju yang kemudian
disebarluaskan ke negara-negara dunia ketiga dalam kenyataannya malah membuat
polarisasi regional, atau secara gamblang dikatakan bahwa negara maju semakin
maju, sedangkan negara miskin semakin miskin.
Ide dasar untuk
membantu negara-negara dunia ketiga dengan cara memberikan hutang secara
eksplisit adalah cukup baik, karena dengan bantuan ini diharapkan negara dunia
ketiga dapat melakukan pembangunan ekonomi atau dengan kata lain membangun
negerinya dengan mencontoh negara-negara yang terlebih dahulu maju. Namun
secara implisit sebenarnya dengan adanya bantuan, otonomi pada negara satelit
(Indonesia) akan berkurang atau bahkan lenyap sama sekali (Lembaga bantuan
seperti IMF maupun World Bank cenderung mendikte negara dunia ketiga karena
tidak adanya karakter pada kalangan elite Indonesia).
Indonesia pada
awal kemerdekaannya cenderung menentang masuknya lembaga “bantuan” tersebut dan
juga meminimalisasi masuknya perusahaan-perusahaan asing sekalipun, yang
dikarenakan presiden Indonesia saat itu (Soekarno) menganggap Indonesia akan
dapat berkembang dengan tanpa kehadiran “bantuan” dari pihak luar (Indonesia
dapat berdikari/ berdiri di atas kaki sendiri). Namun kemudian kekuasaan Soekarno
ditumbangkan oleh Jendral Soeharto, yang pada sebagian kalangan diindikasikan
didukung oleh Amerika dan Inggris karena Soekarno di anggap tidak bisa diajak
bekerjasama oleh mereka dan merasa Soeharto akan memberikan peluang pada mereka
untuk melakukan intervensi Indonesia.
Oleh karena itu
pemerintahan Soeharto menggunakan teori modernisasi yang di dalamnya identik
atau bahkan sarat dengan campur tangan pihak luar negeri. Dari pengalaman orde
baru tersebut dapat diambil pelajaran bahwa ternyata “bantuan” yang di berikan
oleh negara maju tidak sepenuhnya murni, namun mengandung
kepentingan-kepentingan tertentu seperti masuknya perusahaan-perusahaan asing,
dan bahkan campur tangan pihak asing dalam pembuatan konstitusi. Hal ini lah
yang kemudian disebut sebagai dependensi, atau lebih jelasnya modernisasi
ternyata telah membawa negara-negara dunia ketiga terhadap masalah baru, yaitu
ketergantungan terhadap negara maju yang disini dijelaskan baik dengan hutang
maupun hal-hal lain. Kemudian pada tahun 1998 di Indonesia terjadi reformasi
yang hampir menjadi revolusi total.
Namun, usaha
untuk mengganti rezim Soeharto yang otoriter mengorbankan banyak hal yang
menyebabkan timbulnya krisis ekonomi di Indonesia yang relatif terjadi sampai
saat ini. Krisis ini terjadi merata di seluruh daerah, bahkan di Ibu kota
negara sekalipun. Krisis ini menimbulkan banyak dampak, yang secara khusus
adalah bertambahnya pengengguran dan meningkatnya jumlah kemiskinan. Kemiskinan
ini pun menimbulkan banyak dampak seperti penduduk yang mau bekerja apa saja
dengan upah yang minim serta tanpa kesejahteraan sekalipun. Oleh karena itu,
untuk membuat negara dunia ketiga maju menurut teori ketergantungan harus
dilakukan pembatasan atau bahkan pemutusan hubungan dengan luar negeri. Negara
harus mampu berdiri sendiri (mandiri/ self reliance).
Teori
Ketergantungan sudah tidak relevan lagi untuk menjelaskan besarnya hutang luar
negeri Indonesia.
Pada teori
ketergantungan dijelaskan bahwa untuk melakukan pembangunan, Indonesia haruslah
melepaskan diri dari pengaruh luar negeri. Namun dengan melepaskan diri dari
luar negeri adalah sama saja dengan mengasingkan Indonesia di tengah pergaulan
negara-negara di dunia. Selain itu, sebenarnya hutang pun sedikit banyak akan
membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan catatan hutang tersebut
dimanfaatkan dengan baik untuk membiayai sektor yang dianggap penting dan
pertumbuhannya bagus. Selain itu, teori ketergantungan juga kurang
memperhatikan kelemahan yang ada dalam internal negara itu sendiri. Seperti
yang terjadi di Indonesia dimana hutang yang diberikan lembaga bantuan ternyata
sebagian besar dikorupsi oleh para pemegang pemerintahan, seperti yang
dilakukan oleh Soeharto dan kroninya yang mengkorupsi kurang lebih sebanyak 15
Trilyun Rupiah.
Penjelasan
Pembangunan di Korea Selatan Dapat Lebih Maju daripada Di Indonesia Dengan
Teori Sistem Dunia
Penjelasan
mengenai ini dapat diambil dari penelitian yang dilakukan Koo yang menunjukkan
adanaya interaksi antara sistem dunia, negara dan kelas di Korea. Dalam
penelitian Koo ditemukan bahwa ternyata penjajahan Jepang tidak mengganggu hak
milik petani yang kemudian berpengaruh besar terhadap struktur kelas sosial
Korea Selatan yang ternyata sangat responsif terhadap program pembangunan.
Kemudian selain itu Jepang juga meninggalkan bangunan sarana dan prasarana
dasar yang diperlukan oleh Korea dikemudian hari setelah kemerdekaannya, ketika
pembangunan industri dalam arti sesungguhnya dimulai.
Selain itu,
kemajuan pembangunan Korea Selatan juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh
Amerika Serikat yang mendukung pembangunan Korea Selatan yang ditujukan untuk
membendung melebarnya revolusi komunis di timur jauh. Kemudian Koo mengatakan
bahwa sejak tahun 1953 sampai tahun 1958, setiap tahunnya Korea Selatan menerima
bantuan Amerika tidak kurang dari 270 juta dolar AS. Ini sama dengan 12 dolar
AS penghasilan perkapita pertahun, atau sekitar 15% produk kotor nasional
Korea.
Setelah
keberhasilan integrasi politik ini dicapai, barulah Korea Selatan secara
ekonomis perlahan-lahan terlibat sepenuhnya dalam jaringan sistem kapitalis
dunia. Kemudian pada tahun 1950-an Korea Selatan melaksanakan kebijakan
industri substitusi import (ISI). Setelah kebijaksanaan ini mencapai batasnya
pada tahun 1960-an Korea Selatan mulai masuk secara dinamis dalam tata ekonomi
kapitalis ini dengan kebijaksanaan orientasi keluarnya, industri orientasi
eksport (IOE). Barulah setelah tahun 1970-an Korea Selatan mulai melaksanakan
integrasi industri horizontal dan vertikal. Atau secara umum dapat dikatakan
bahwa Korea Selatan dapat lebih maju karena dia mampu membaca dan mempergunakan
kesempatan yang ada. Hal ini terlihat dengan adanya usaha Korea Selatan untuk
memacu produksi industri garmen ketika industri garmen dunia sedang bergairah,
dan kemudian setelah mendapatkan indikasi yang menunjukkan industri garmen
mulai meredup, Korea Selatan dengan tanggap segera mengalihkan industri garmen
ke industri otomotif maupun elektronik. Dan faktor yang paling dominan dalam
keberhasilan pembangunan Korea Selatan adalah Korea Selatan memulai
kebijaksanaan industri orientasi ekspornya jauh lebih dulu dibanding negara
dunia ketiga lainnya.
Pustaka Acuan
- Suwarsono
dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES
Indonesia.
- Film “The
New Rules In The World”
Saya TKI DI MALAYSIA
ReplyDeleteMaaf sebelumnya jika lewat Tempat ini saya menceritakan kisah hidup saya niat saya hanyalah semata ingin berbagi tapi semua tergantung Anda percaya atau tidak yg jelasnya inilah kenyataannya...
Syukur alhamdulillah kini saya bisa menghirup udara segar di indonesia karnah sudah sekian lama saya ingin pulang ke kampung halaman namun tak bisa sebab,saya harus bekerja di negri orang (Arab Saudi) karna ada hutang yang harus saya bayar di majikan yaitu 257 juta untuk uang indo namun saya tidak pusing lagi sebab kemaring saya di berikan Info oleh seseorang yang tidak saya kenal,katanya kalau mengalami kesulitan Ekonomi,Terlilit hutang silahkan minta bantuan sama
KI BARONG di Nomor telfon 0852 8895 8775 di jamin bantuan beliau 100% …
ATAU >>KLIK DISINI<<
BANTUAN DARI KI BARONG
1.PESUGIHAN
2.TOGEL
3. DANAH GHAIB
4.PENGGANDAAN UANG
5.UANG BALIK
6.PEMIKAT
7.PENGLARIS BISNIS (Jualan,Tokoh,warung)
8.PERLANJAR DALAM BERBAGAI HAL
Jadi saya beranikan diri menghubungi beliau dan menyampaikan semua masalah saya dan alhamdulillah saya bisa di bantu,kini semua hutang saya sama majikan di Saudi semua bisa terlunasi dan punya modal untuk pulang kampung,,,,
Jadi buat yang pengen seperti saya silahkan hubungi KI BARONG di nomor 0852 8895 8775 Anda tidak usah ragu akan adanya penipuan atau hal semacamnya sebab saya dan yg lainnya sudah membuktikan keampuhan bantuan beliau kini giliran Anda trimahkasi….