Resume Bab Strukturalisme pada
buku K. Bertens (2001). Filsafat Barat Kontempoter;Prancis. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
oleh Rizki Setiawan
Tepat setelah Perang Dunia II
eksistensialisme menjadi mode intelektual di Prancis, yang kemudian pada tahun
60-an strukturalisme menjadi begitu populer yang kemudian juga menjadi mode.
Linguistik Modern
Ferdinand de Saussure (1857-1913)
telah meletakkan dasar untuk linguistik modern. Ia lah yang merumuskan tiga
pembedaan yang memegang peranan dalam strukturalisme, yaitu signifian
dan signifié, lantas langage, parole dan langue, dan
akhirnya sinkroni dan diakroni.
Signifian dan Signifié
Menurut saussure tanda bahasa
yang dipelajari linguistik terdiri atas dua unsur; le signifiant dan le
signifie, yang berarti penanda dan yang ditandakan. Signifiant adalah
bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material bahasa). Signifié
adalah gambaran mental, pikiran atau konsep( aspekmental bahasa). Signifian
dan signifié merupakan kesatuan, sehingga dalam tanda bahasa yang
konkret kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan. Suatu Signifian tanpa signifié tidak akan
berarti apa-apa dan karena itu bukan tanda. Sebaliknya, signifié tidak
mungkin terlepas dari signifiant; yang ditandakan itu termasuk tanda itu
sendiri. Oleh karena itu dalam linguistik kita tidak memandang lagi subjek yang
bicara.
Langage, Parole dan Langue
Parole dimaksudkan
pemakaian bahasa yang individual atau dapat dikatakan sebagai cara individu
memakai bahasa. Namun parole tidak dipelajari oleh linguistik. Sementara
itu, yang dimaksudkan dengan langue adalah bahasa sejauh merupakan milik
bersama dari suatu golongan tertentu. Akibatnya langue melebihi semua
individu yang berbicara bahasa itu.
Menurut Saussure langue
itu harus dianggap sebagai sistem. Untuk menjelaskannya perbandingan, yaitu
bahasa sebagai langue dapat dibandingkan dengan main catur. Bahasa itu
bukan subtansi, melainkan bentuk saja. Bahan dari mana bahasa tidak memegang
peranan, yang penting dalam bahasa adalah aturan-aturan yang
mengkonstitusikannya. Yang penting ialah susunan unsur-unsurnya dalam hubungan
satu sama lain. Yang penting adalah relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang
membentuk sistem itu. Dengan demikian hubungan antara signifian dan signifié
pun bersifat arbitrer. Alasannya ialah bahwa setiap tanda bahasa mendapat
nilainya hanya karena tercantum dalam sistem bahasa (dan bukan karena salah
satu ciri natural.
Sinkroni dan Diakroni
Sinkroni dapat dijelaskan
sebagai “bertepatan menurut waktu” dan diakroni sebagai “menelusuri
waktu”. Diakroni adalah peninjauan historis, sedangkan sinkroni adalah
peninjauan ahistoris. Bahasa dapat diselidiki sebagai sistem yang berfungsi pada
saat yang tertentu (dan dengan demikian tidak memperhatikan bagaimana bahasa
itu berkembang sampai keadaan saat itu) dan kita dapat menyoroti perkembangan
bahasa sepanjang waktu. Menurut Saussure, linguistik harus memperhatikan sinkroni
sebelum menghiraukan diakroni. Dengan demikian, linguistik tidak hanya
mengesampingkan semua unsur ekstra lingual, linguistik juga melepaskan objek
studinya dari dimensi waktu.
Namun Saussure juga tidak serta
merta menolak penyusuran diakroni, menurutnya sinkroni harus
mendahului diakroni. Karena tidak ada gunanya mempelajari perkembangan
salah satu unsur bahasa, terlepas dari sistem-sistem dimana unsur tersebut
berfungsi.
Struktur
Dalam uraian tentang
prinsip-prinsip linguistik tak kunjung disebut istilah struktur, karena kata
‘struktur’ tampil secara spontan bila orang berfikir menurut prinsip-prinsip
Saussure. Maka, untuk memahami perbedaan strukturalisme dengan aliran pemikiran
lain harus kembali pada pasangan-pasangan seperti umpamanya signifian
dan signifié, lantas langage, parole dan langue, dan
akhirnya sinkroni dan diakroni.
Linguistik menjadi “Model”
Pada awal abad ke-20 di Rusia
terdapat sejumlah sarjana (Mazhab Praha) yang menggunakan metode
strukturalisme. N. Trubetzky dan Jacobson menerapkan prinsip-prinsip Saussure
pada fonologi dan dengan demikian mereka telah meletakkan dasar bagi fonologi
modern. Ini membuat linguistik seakan menjadi “model” bagi ilmu-ilmu manusia
yang lain. Hal ini dimungkinkan sebab manusia- bertentangan degan hewan- adalah
makhluk yang berbakat simbolik. Kultur terdiri dari sistem-sistem simbolis, dan
tidak dapat disangkal bahasa adalah bagian simbolis yang paling penting dan
menjadi dasar untuk sistem simbolis. Dengan demikian metode strukturalistis
berkembang lebih luas dari pada studi bahasa saja.
Strukturalisme dan antropologi
budaya; Claude Lévi-Strauss
Fonologi terutama ditandai tiga
ciri yang ketiganya dapat dimanfaatkan dalam ilmu antropologi. Pertama,
sebagaimana bahasa seluruhnya merupakan suatu sistem tanda, demikian pula
unsur-unsur bahasa yang disebut fonem-fonem merupakan suatu sistem yang terdiri
dari relasi-relasi dan oposis-oposisi. Kedua, sistem itu harus dipelajari
secara sinkronis sebelum menyelami masalah-masalah diakronis.
Yang terakhir, hukum-hukum linguistik memperlihatkan suatu taraf tak sadar.
Hukum-hukum bahasa umpamanya diterapkan orang tanpa ragu-ragu, yang berarti
sistem bahasa dibentuk oleh “psike manusiawi” yang refleksif dan tak sadar.
Kemudian dalam bukunya Struktur-struktur
elementer kekerabatan Lévi-Strauss menganalisa dan menjelaskan
sistem-sistem kekerabatan primitif dengan memakai metode strukturalistis. Ia
beranggapan bahwa aturan-aturan yang diikuti klen-klen primitif di bidang
kekerabatan memang merupakan suatu sistem. Salah satu aspek yang menarik dalam
buku tersebut adalah Lévi-Strauss menemukan adanya universalitas kultur
yang melarang incest. Dalam semua kebudayaan terdapat larangan incest,
yang berbeda hanyalah isinya.
Lévi-Strauss berpendapat
bahwa larangan incest itu merupakan fenomena negatif dari suatu fenomena
positif; orang wajib menikah di luar klennya sendiri. Perintah eksogami adalah
sebagai implikasi negatif dari larangan endogami. Itu berarti larangan untuk
menikahi lawan jenis dari satu klen berarti juga kewajiban untuk menyerahkannya
pada klen lain, agar pada gilirannya klen lain juga akan memberikan orang
mereka untuk menjadi pasangan mereka. Dasar dari hubungan-hubungan sosial
adalah pertukaran, dan pernikahan merupakan model pokok dari pertukaran.
Larangan incest bersifat universal karena mengingkari larangan berarti
menumbangkan tiang-tiang masyarakat. Pertukaran merupakan semacam “hukum alam”
bagi kehidupan sosial. Dengan menikah di luar klennya sendiri akan menciptakan
kehidupan sosial, yang ditandai dengan lahirnya kultur. Sudah nyata kiranya
bahwa proses ini berlangsung pada taraf tak sadar dan akibatnya berasal dari
suatu aktivitas tak sadar dari psike manusiawi.
Lalu pada buku Lévi-Strauss
yang paling dekat dengan filsafat adalah “Pemikiran Liar”(1962). Di sini
Ia ingin memperlihatkan kesimpulan dari antropologi strukturalnya, dan bab
terakhir dipakai untuk mengkritik atas buku Sartre Kritik atas Rasio
Dialektis. Salah satu pemikiran Lévi-Strauss yang tampak sepanjang
buku ini adalah tidak ada perbedaan antara “pemikiran jinak” dengan “pemikiran
liar”, antara pikiran masyarakat primitif dan masyarakat saat ini. Pemikiran
primitif maupun pemikian ilmiah yang modern adalah sama-sama berfikir logis.
Hanya saja caranya berlainan. Pemikiran liar bersifat konkret, namun bekerja
hanya pada taraf inderawi. Pemikiran ini mengatur (dan bagi Lévi-Strauss
inti pemikiran ialah menciptakan orde atau tata susunan), tetapi pemikiran ini
tidak memikirkan dirinya sendiri; pemikiran ini tidak refleksif.
Dengan ini Lévi-Strauss
tiba pada pendiriannya mengenai pemikiran tanpa subjek. Pemikiran tidak berasal
dari suatu ‘subjek’. Berfikir adalah mengklasifikasi, dan karena
peraturan-peraturan yang diikuti dalam hal itu tidak disadari, baginya subjek
tidak mempunyai peranan. Dengan berpikir manusia hanya mempraktekkan struktur
yang terdapat dalam realitas.
Selanjutnya dalam karya raksasa
yang diberi judul umum Mythologiques hanya mewujudkan gagasan yang sudah
ada dalam Pemikiran Liar. Mitos merupakan hasil dari kreativitas psike
manusia yang sama sekali bebas. Mitos juga terdiri atas relasi-relasi serta
oposisi-oposisi dan bahwa dengan cara demikian “pemikiran liar berhasil menciptakan
keteraturan dalam dirinya.
Dalam usaha menginterpretasikan
mitos, Lévi-Strauss membedakan unsur-unsur elementer dalam setiap mitos (dinamakan
mythémme). Misalkan pada cerita oidipus yang membunuh ayahnya, boleh
diangap sebagai mitem tersendiri; dan bahwa Oidipus menikahi ibunya, merupakan
suatu mitem lain. Interpretasi ini berlangsung dengan mengaitkan relasi-relasi
dan oposisi-oposisi antara unsur-unsur elementer tersebut. Dan yang lebih
ditekankan adalah pentingnya membaca mitos secara lengkap, dan mitos-mitos juga
harus dikaitkan satu sama lain.
Strukturalisme dan Psikoanalisa; Jacques Lacan
Lacan mengungkapkan bahwa mimpi,
gejala neurotis, “salah tindak” dan lain-lain merupakan penanda. Seluruh
percakapan si analis dengan si analisan juga merupakan seuntai rantai
penanda-penanda. Ketidaksadaran adalah semacam logos yang mendahului
manusia perseorangan. Ketidaksadaran merupakan struktur, tetapi manusia sendiri
tidak menguasai struktur ini. Ketidaksadaran di sini dalam konteks percakapan
psikoanalisis, percakapan seorang psikoanalis dengan analisannya. Dalam
percakapan itu ketidaksadaran tampak sebagai bahasa. Dalam percakapan tersebut
subjek tidak berbicara, namun subjek dibicarakan.
Subjektifitas
Anggapan modern mengenai subjektifitas berasal dari
descartes, karena filsuf prancis ini menunjukkan cogito[1]
sebagai tolak bagi filsafat. Hal ini menandakan bahwa kesadaran merupakan
hakikat manusia. Manusia menyadari bahwa dia adalah manusia; dan apa saja yang
diperbuat manusia, ia menyadari bahwa dialah yang memperbuatnya. Kesadaran
membuat manusia menjadi manusia; manusia adalah subjek karena kesadarannya.
Salah satu pokok ajaran
strukturalisme adalah mereka menolak semua prioritas kesadaran itu. Manusia
takluk pada sistem, dan bukan lagi otonom. Subjektivitas merupakan buah hasil
suatu proses strukturasi yang tidak dikuasai manusia. Selain itu, berkaitan
dengan subjektifitas, strukturalisme juga menentang humanisme.
Kesimpulan; Ideologi atau metode?
Strukturalisme merupakan suatu
pendekatan ilmiah yang telah membuktikan eksistensinya, namun strukturalisme
yang digunakan sebagai ideologi harus ditolak. Karena manusia tidak bisa
semata-mata hanya dipandang sebagai bagian dari struktur.
[1] Cogito diartikan sebagai aku berfikir, namun dalam
karyanya jelas bahwa cogito berarti aku menyadari.
Comments
Post a Comment