Skip to main content

Elektabilitas Tanpa Integritas

Kepemimpinan merupakan faktor kuat pendorong perubahan dalam sistem presidensialisme. Kekuasaan dan wewenang yang terpisah antara legis latif dengan eksekutif memungkinkan program pemerintah dapat berjalan meski tanpa dukungan politik. Namun dalam praktiknya di Indonesia, kebijakan presiden selalu tersandera oleh tarik-menarik politik legislatif. Tak pelak lagi kalkulasi menuju RI 1 harus bersifat koalisi minimal antara dua partai atau lebih.

Awal tahun 2011 ini wacana politik negeri ini diriuhkan oleh calon-calon RI 1 untuk pemilu 2014 mendatang. Beberapa nama coba diujikan kepada publik (lihat tabel 1). Konsekuensinya koalisi antar partai mulai semakin dinamis.



Kemungkinan calon pertama adalah Aburizal Bakrie, yang merupakan kandidat terkuat dalam Partai Golkar. Pada pembukaan Rapimnas 1 partai Golkar Aburizal Bakrie menunjukkan optimisme bahwa pada Pemilu 2014 mendatang Golkar bisa menduduki kursi RI 1. Optimisme ini didukung dengan fakta kemenangan Golkar yang mencapai 53 persen pada pilkada di hampir semua provinsi. Namun pada perkembangannya, Aburizal mengklarifikasi melalui blog pribadinya bahwa pencalonan tersebut masih tentatif, dan sekaligus mengungkap bahwa capres Golkar 2014 nantinya akan ditentukan melalui survei popularitas.

Secara politis, jabatan Ketua Umum Golkar yang sekarang ini dipegang Aburizal Bakrie menjadi faktor pendorong terkuat bagi Aburizal untuk mencalonkan diri sebagai capres, belum lagi dengan posisinya sebagai ketua Sekretariat gabungan. Selain itu, kekuatan ekonomi yang dimiliki Aburizal juga merupakan nilai lebih Aburizal dibanding dengan saingan lain dalam internal partai. Menurut majalah Forbes, Aburizal berada pada urutan kesepuluh dalam peringkat orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan senilai US$2,1 miliar. Aburizal juga menguasai saham beberapa media yang dapat digunakannya sebagai medium kampanye. Namun dalam diri Aburizal terdapat dua negativitas yang bisa mengubur popularitasnya: terkatungnya nasib masyarakat korban lumpur Lapindo dan dugaan penyimpangan pajak perusahaan-perusahaan Bakrie Group.

Hatta Rajasa terlihat berupaya menaikkan popularitas melalui iklan di berbagai media yang menampilkan dirinya. Kekuatan Hatta adalah pada pengalamannya dalam kabinet ekonomi yang bisa dimanfaatkan sebagai modal kampanye. Namun begitu, secara riil partai yang mengusungnya adalah partai minoritas yang hanya mendapatkan kursi DPR kurang dari sepuluh persen.

Kemungkinan ketiga adalah Prabowo, yang pada pemilu lalu menjadi calon wakil presiden hasil koalisi Gerindra dengan PDI-P. Meskipun mengalami kekalahan, beberapa pihak berkilah bahwa peraihan suara yang hanya 26,8 persen dari pilpres 2009 dikarenakan posisi Prabowo yang hanya menjadi cawapres. Kekuatan Prabowo adalah pada posisinya sebagai Dewan Pembina Partai Gerindra, Ketua HKTI dan kemungkinan didukung kembali oleh PDI-P. Namun begitu, Prabowo dibayang-bayangi dugaan pelanggaran HAM di Timor-Timur dan juga penculikan aktivis tahun 1997-1998.

Sementara pada PDI-P, popularitas Megawati dianggap telah menurun seiring dengan kekalahannya pada pemilu lalu. Sementara Tjahjo Kumolo dengan posisinya sebagai Sekjen PDI-P tidak menjadi jaminan untuk menjadi kandidat, karena kebesaran PDI-P oleh banyak kalangan dianggap merupakan dampak turunan kharisma Soekarno kepada Megawati. Dengan begitu Puan Maharani merupakan kandidat yang paling mungkin menggantikan Megawati dalam pilpres 2014. Namun popularitas Puan sebagai klan Soekarno yang paling aktif dalam kegiatan partai pun belum sebesar Megawati, yang membuat PDI-P masih gamang dalam menimbang calon presiden 2014.

Sebagaimana PDI-P, partai Demokrat juga masih mencari calon yang tepat. Susilo Bambang Yudhoyono telah menjabat dua kali, sehingga regenerasi menjadi persoalan mutlak yang harus diselesaikan. Suasana demokratis Partai Demokrat pada kongres partai yang menghasilkan Anas Urbaningrum sebagai ketua umum tidak serta merta menghilangkan nuansa regenerasi melalui keluarga SBY sebagai pendirinya. Seperti yang diungkap The Jakarta Post pada 15 November 2010, SBY terlihat masih ingin melanjutkan kekuasaan melalui tangan keluarga maupun kerabatnya. Terdapat sederetan nama yang sedang dipertimbangkan SBY guna melanjutkan kekuasaan. Indikasi ini diperkuat dengan upaya SBY yang tetap berusaha memegang kendali Demokrat dengan menjadi Ketua Dewan Pembina Partai meskipun melepas jabatan Ketua Umum kepada Anas.

Selain melalui partai yang sudah mapan, terdapat juga calon yang sedang membangun kekuatan politik guna mencalonkan diri sebagai presiden. Meskipun selalu berkilah, upaya Surya Paloh mengembangkan ormas Nasional Demokrat nampak jelas merupakan penggalangan dukungan politik. Bahkan Nasional Demokrat sangat mungkin berubah menjadi partai politik karena perkembangannya yang luas dan cepat. Nasional Demokrat bisa menjadi kekuatan politik yang kuat bagi Surya Paloh, karena keanggotaannya berasal dari beragam lapisan masyarakat dan berbagai partai politik.

Kemungkinan calon yang terakhir tertambat pada Sri Mulyani Indrawati. Sebagai satu-satunya kandidat dari luar lingkaran parpol, Sri Mulyani diharapkan bisa mengawali era baru kepolitikan Indonesia. Popularitas Sri Mulyani menguat melalui kinerjanya dalam reformasi birokrasi pada kementerian keuangan dan juga karena posisinya sebagai korban politisasi bailout Century. Karakter kepemimpinannya yang tegas dan kompeten terbukti berhasil memperkuat perekonomian Indonesia. Sri Mulyani juga dikenal sebagai sosok yang jujur, bersih, dan memiliki integritas yang kuat terhadap tugas yang diembannya. Satu-satunya ganjalan bagi Sri Mulyani menuju bursa calon presiden adalah belum adanya dukungan yang kuat dari partai politik.

Matriks koalisi Capres-Cawapres 2014

Prediksi koalisi ini dibangun dengan membatasi pada tiga partai yang mendapat suara tertinggi serta partai yang mengusung calon presiden pada pemilu 2009 lalu.

Partai Demokrat mungkin akan beraliansi dengan Golkar, PDI-P, ataupun mengusung calon Presiden tanpa aliansi. Jika Demokrat mengusung calonnya sendiri maka kemungkinan kuat Ani Yudhoyono akan menjadi Calon presiden dengan Anas Urbaningrum sebagai wakil presiden. Dodi Ambardi dari Lembaga Survei Indonesia menyebutkan bahwa popularitas AniYudhoyono mencapai 75 persen, dan Anas menjadi cawapres karena posisinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Sementara itu, jika beraliansi dengan Golkar hampir bisa dipastikan Demokrat hanya mendapatkan posisi sebagai cawapres, dikarenakan besarnya kekuatan ekonomi dan kekuatan media Aburizal sebagai kandidat dari partai Golkar. Kemungkinan yang ketiga yang kemungkinannya sangat kecil bagi partai Demokrat adalah bersanding dengan PDI-P, karena memang hubungan keduanya selama ini kurang mesra. Ini terjadi jika Anas sebagai Ketua Umum bersikukuh untuk maju sebagai kandidat meskipun mendapat tekanan dari Dewan Pembina, yang secara antusias disambut oleh Megawati karena Demokrat merupakan partai dominan. Selain menjalin hubungan dengan PDI-P, pilihan terbaik yang dimiliki Anas adalah dengan menjadikan Sri Mulyani sebagai capres sementara Anas sebagai cawapres karena diprediksi akan mendulang suara yang cukup besar.



Sementara itu partai Golkar hingga saat ini belum ditemui tokoh yang mampu menandingi Aburizal dalam internal partainya. Sehingga jika Golkar tidak beraliansi maka dalam internal partai akan terjadi perebutan kursi cawapres. Pada kondisi inilah Surya Paloh bisa kembali masuk ke dalam Golkar menjadi pasangan Cawapres Aburizal. Selain itu, potensi ekonomi dan media Aburizal akan membuatnya mendominasi siapapun yang menjadi mitra aliansi. Jikapun Golkar kemudian beraliansi dengan PDI- P, tentu Megawati tidak akan mau menjadi pasangan cawapres Aburizal, sehingga kemungkinan aliansi Golkar dengan PDI-P adalah melalui Puan Maharani.

Pencalonan presiden pada PDI-P juga relatif monoton, dengan pilihan tetap pada Megawati atau beralih ke Puan Maharani. Dengan tanpa aliansi PDI-P akan mengusung Megawati sebagai calon presiden dan kemungkinan besar Puan Maharani akan menjadi cawapresnya meskipun tidak menutup kemungkinan bagi Tjahjo Kumolo, karena duet perempuan dianggap tidak akan meraup banyak simpati masyarakat. Sementara itu, pilihan untuk beraliansi kembali dengan Gerindra juga mengecil yang dikarenakan ambisi Prabowo untuk menjadi capres. Aliansi dengan Gerindra hanya mungkin jika Puan Maharani yang menjadi perwakilan PDI-P, itupun posisinya sebagai cawapres.

Menerobos Kebuntuan

Tak dapat dipungkiri bahwa figur-figur yang mondar mandir di panggung politik nasional saat ini memiliki nilai keterpilihan (elektabilitas). Tapi kita juga menyadari bahwa ada nama-nama yang pernah berkuasa tapi tak membawa perubahan yang berarti. Ada pula yang sedang berkuasa tapi tak memberi terobosan. Terlebih lagi menggunakan kekuasaannya untuk mempertahankan keboborokan yang diciptakannya. Setiap dari mereka mencoba melanggengkan klan politiknya masing-masing. PDI-P sepertinya akan tetap diteruskan oleh keluarga Soekarno, Golkar diisi oleh para pengusaha kaya, dan Demokrat semakin hari suasananya semakin ‘kekeluargaan’. Jika pasar politik di masa kini diatur lewat kartel politik, maka menuju 2014 mereka menggulirkan sistem oligarki, baik itu oligarki klan politik atau pun klan ekonomi.

Substansi demokrasi adalah menolak kekuasaan yang dipegang segelintir orang secara berkelanjutan. Upaya mempertahankan kekuasaan melalui tambatan tongkat estafet pada kerabat, terlebih anggota keluarga adalah kesalahan fatal. Demokrasi selalu mencoba menghadirkan kebaruan politik yang diharapkan bisa membawa perubahan. Namun begitu, Pemilu 2014 mendatang nampaknya tidak menyediakan pilihan pemimpin yang mampu menghadirkan harapan perubahan. Jika ada kehendak politik untuk membuat perubahan, maka Sri Mulyani Indrawati (SMI) selayaknya masuk dalam bursa pemilihan. Jejak rekamnya menunjukkan sejalannya perkataan dan perbuatan. Perubahan di Indonesia tidak dapat diharapkan dari karakter individu megalomania, inferior, selalu merasa teraniaya, oportunis, mengandalkan kebesaran orang lain dari pada kemampuan diri. Indonesia tidak cukup dipimpin oleh orang baik, tapi juga orang yang berani (courage). Sri Mulyani dikenal tidak ragu mengambil keputusan, mempertimbangkan konsekuensi etis dari perbuatannya, dan selalu konsekuen. Integritasnya perlu diteruskan dengan elektabilitas akan figur dirinya. Partai-partai politik yang serius dengan reformasi Indonesia sepatutnya mempertimbangkan figur SMI. Sebab kepemimpinan yang tegas dan memiliki visi jelas menjadi sandaran harapan kemajuan positif bangsa Indonesia di tengah realita kerumitan reformasi birokrasi dan kesukaran pemberantasan korupsi.

Analisis di atas merupakan prediksi awal yang tentutnya akan terus mengalami perubahan, terutama dengan perolehan kursi partai pasca pemilu legislatif 2014. Titik pastinya adalah demokrasi mengandung harapan akan kebaruan politik dan kemajuan kesejahteraan warga, dan dengannya pemimpin Indonesia nantinya harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia  RZX

Sumber: Konstelasi P2D No.29 / Januari 2011
Untuk download Konstelasi No.29 lengkap , klik ->
atau bisa langsung ke www.p2d.org


Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...