Skip to main content

Demokrasi


Oleh Rizki Setiawan 

Demokrasi sebagai ide, awalnya muncul di Yunani. Pada masa itu di Yunani masyarakat dibagi menjadi dua golongan saja, yaitu kaum bangsawan (pemilik budak dan anggota kerajaan, maupun para filsuf) dan kaum kota (penduduk kota, atau mereka yang tidak memiliki budak dan bukanlah budak). Namun  begitu ternyata masih ada satu gologan lagi yang tidak masuk stratifikasi, yaitu kaum budak.

Sementara itu demokrasi menurut asal katanya terdiri dari dua kata yaitu demos dan kratos, demos itu berarti rakyat dan kratos mengacu pada kekuasaan/otoritas. Karena itu demokrasi sering diartikan sebagai suatu sistem pengambilan politik dimana yang memiliki otoritas adalah rakyat, jadi bukan oleh satu orang saja. Kemudian timbul pertanyaan, kemudian siapa yang termasuk dalam rakyat dalam demokrasi?

Pada zaman Yunani, seperti yang telah dijelaskan, memandang bahwa yang termasuk rakyat adalah kaum bangsawan dan masyarakat kota. Ini didasarkan pada argumen Plato yang menyebutkan bahwa rakyat adalah orang yang tidak lagi memikirkan perut, orang yang telah terbebas dari kebutuhan ekonomi. Plato melanjutkan bahwa masyarakat kelas bawah itu tidak berpendidikan dan juga jarang yang mengerti akan nilai. Maka ketika masyarakat kelas bawah dilibatkan dalam pengambilan keputusan, akan terjadi kekacauan di dalam masyarakat. Dan ini menyebabkan filsuf maupun kaum menengah akan kembali memimpin negara.

Namun spesifikasi rakyat yang dibuahkan Plato tidak menjawab kepentingan kaum kelas bawah, kaum yang tidak diakui sebagai rakyat atau jelasnya, para budak. Selama budak tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, meskipun kaum menengah lebih memiliki pengetahuan dan nilai, kepentingan dari kaum budak itu tidak akan terpenuhi dalam sebuah negara. Inilah yang menyebabkan rakyat/ demos dalam demokrasi saat ini meluas menjadi seluruh masyarakat yang telah dewasa, tidak gila dan ketentuan lainnya.

Terdapat sisi buruk demokrasi, yaitu dapat dimanfaatkan oleh golongan kapitalis untuk menindas masyarakat. Ini dapat dilihat pada pemilu dimana yang ber”modal”lah yang pada umumnya menang. Dengan memiliki kapital, mereka bisa melakukan kampanye melaluyi berbagai media. Selain itu juga para kapital juga dapat menghegemoni masyarakat kelas bawah melalui saluran-saluran kebudayaan yang ada. Namun begitu demokrasi, sesuai tujuan awalnya adalah untuk menjadikan rakyat sebagai pemegang otoritas. Karena itu, demokrasi juga dapat menjadi sarana rakyat kelas bawah untuk menyalurkan aspirasi/ kepentingannya. Dari sini dapat dimengerti bahwa demokrasi merupakan sebuah ruang kosong dimana kita semua sebagai rakyat berhak menggunakannya sebagai alat menuju pada common good.

Namun mengenai common good ini pun mengalami perbedaan sudut pandang. Ini yang menyebabkan demokrasi terbagi menjadi dua, individual centered theory dan community centered theory. Dalam Individual center theory, hak-hak individu seperti hak untuk hidup, makan, memiliki pekerjaan, memiliki rumah, tanah, dan sebagainya diakui, bahkan dilindungi oleh negara. Sementara itu, dalam community centered theory ditekankan bahwa yang paling penting adalah kepentingan/ hak dari komunitas, yang diutamakan adalah kepentingan masyarakat banyak.


Dua distingsi dalam jenis demokrasi ini kemudian melahirkan satu varian baru dari demokrasi, yaitu gabungan antara keduanya. Yang mendasari ini adalah kenyataan bahwa baik demokrasi liberal maupun demokrasi non-liberal tidak pernah berhasil diterapkan secara penuh dalam suatu negara. Dari sini didapatkan bahwa negara pada umumnya menerapkan demokrasi yang membela kepentingan individu sekaligus juga membela kepentingan komunal.

Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...