Oleh Rizki Setiawan
Organisasi pangan dunia (FAO) mencatat
pada kurun waktu 2001-2003 di Indonesia terdapat sekitar 13,8 juta penduduk
yang kekurangan gizi. Sementara berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional
2005, angka gizi buruk dan gizi kurang adalah 28 persen dari jumlah anak
Indonesia. Di sisi lain, di beberapa tempat seperti daerah perkotaan dan pada
kelompok ekonomi berkecukupan, obesitas menjadi bagian dari masalah kesehatan.
Sekalipun belum ada data resmi yang diungkapkan pemerintah, beragam penelitian
menunjukkan angka obesitas yang cukup mencengangkan. Satu di antaranya
menyebutkan hingga 4,7% atau sekitar 9,8 juta penduduk Indonesia mengalami
obesitas, belum termasuk 76,7 juta penduduk (17,5%) yang mengalami kelebihan
berat badan atau berpeluang mengalami obesitas. Lebih menyedihkan lagi, angka
obesitas pada anak juga cukup tinggi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh FK
UNDIP pada kelompok usia 6-7 tahun di Semarang, didapatkan angka rata-rata
obesitas sekitar 12,6%.[1]
Dari data di atas dapat ditarik bahwa
malnutrisi telah menjadi persoalan yag mendasar bagi suatu bangsa, karena
sumber daya manusia yang berkualitas tentunya sangat dibutuhkan negara,
terutama pada kalangan produktif dan anak-anak.
Film “We are what we eat” menceritakan
bagaimana manusia terbentuk/ dapat dicerminkan dari apa yang dimakannya. Film
ini juga menggambarkan pola makan masyarakat di Amerika Serikat yang mengalami
perubahan dengan pola makan yang tidak memperhatikan nutrisi di dalam makanan
tersebut. Hal ini dapat ditilik dengan menjamurnya restoran yang menawarkan
makanan cepat saji seperti misalnya Mc Donald, KFC, Wendys, dll. Padahal
makanan cepat saji tersebut sangat tidak memperhatikan kesehatan, makanan
tersebut mengandung lemak dan kolesteroltanpa diimbangi dengan serat yang
cukup, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan masalah kesehatan. Selain itu,
pola makan mereka juga sangat tidak teratur, dan juga dalam film ini
ditayangkan sebuah perlombaan makan. Perlombaan makan tersebut sangat tidak sehat
karena peserta hanya beberapa kali mengunyah makanan dan langsung menelannya,
yang membuat organ pencernaan harus bekerja ekstra keras. Mengunyah makanan
yang hanya beberapa kali juga terjadi bukan hanya dalam perlombaan namun juga
pada kehidupan sehari-hari.
Hubungan
antara pola makan dengan variabel sosiologis
Variabel sosiologis dari film tersebut yang pertama
adalah usia. Pada anak-anak dan remaja, malnutrisi terutama terjadi karena asupan
gizi yang tidak seimbang. Makanan cepat saji yang bercita rasa lezat memukau
anak-anak untuk mengkonsumsinya. Malnutrisi yang terjadi pada anak-anak dan
remaja bergantung pada sosialisasi yang dilakukan oleh orang tuanya, sehingga
tingkat pemahaman orang tua terhadap keseimbangan gizi akan mempengaruhi anak.
Perkembangan anak dalam hal nutrisi pun terbagi lagi
menjadi dua; ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja. Anak dengan ibu
yang tidak bekerja cenderung tidak mengalami malnutrisi[2]
karena ibunya dengan segala upaya berusaha agar anaknya makan masakannya,
meskipun tidak menutup kemungkinan juga ibunya tidak masak.
Yang kedua pada anak yang ibunya bekerja, yang
keadaannya lebih buruk. Pekerjaan telah menggerus waktu perempuan untuk berada
di sektor private, sementara itu peran laki-laki yang dibutuhkan dalam sektor private
terkadang belum tersedia. Hal ini dapat dilihat misalkan pada perkembangan bayi
dibawah enam bulan yang sangat membutuhkan Air Susu Ibu, namun ibunya tidak
dapat memenuhinya karena cuti yang diberikan perusahaan tidak lebih dari tiga
bulan. Dan bahkan perempuan yang sedang mengandung bisa dikeluarkan dari
pekerjaannya, yang membuat beban keluarga yang sedang membesar semakin sulit
dihadapi, dan secara tidak langsung mengakibatkan keresahan pada diri perempuan
dan sedikit banyak akan berpengaruh pada proses sosialisasi anak. Sementara itu
Air Susu Ibu yah tentunya hanya dimiliki oleh ibu saja, tidak dimiliki
laki-laki sehingga tidak dapat diwakilkan. Karena itu kebutuhan ASI oleh bayi
tidak terpenuhi, yang kemudian susu sapi dipilih sebagai salah satu pengganti
ASI dan bahkan pada sebagian masyarakat yang sangat miskin, teh manis dan
bahkan air putih dipilih sebagai pengganti ASI. Meskipun susu sapi merupakan
pilihan yang lebih baik dari yang lainnya tetap saja mempunyai implikasi
negatif karena lemak yang dikandung susu sapi lebih tinggi dibandingkan dengan
ASI, karena memang lemak susu sapi disiapkan untuk membangun anak sapi bukan
anak manusia. Susu sapi yang diberikan sebelum anak menginjak umur enam bulan
akan menimbulkan kegemukan dini pada anak dan kegemukan yang selanjutnya pada
umumnya akan terus menunjukkan peningkatan yang luar biasa.[3]
Sedangkan pada orang dewasa, malnutrisi
terjadi dikarenakan tingkat pengetahuan gizi yang rendah, pengaruh pekerjaan,
maupun pengaruh dari gaya hidup. Masyarakat yang bekerja sebagai buruh lebih
rentan terserang malnutrisi, yang disebabkan oleh rendahnya pengetahuan akan
gizi dan beratnya pekerjaan yang dilakukan, sehingga mereka terkadang malas
makan ataupun memilih makanan cepat saji. Buruh di Amerika terutama leih
memilih makanan cepat saji karena harganya yang relatif murah dibandingkan
dengan makanan dengan gizi yang seimbang.
Satu generasi yang lalu, sekitar 3/4
jumlah uang yang dibelanjakan untuk membeli makanan di Amerika digunakan untuk
mempersiapkan makanan dirumah, tapi sekarang, sekitar setengah dari jumlah
belanja makanan itu dihabiskan di restoran (terutama di restoran fast food).[4]lain
halnya dengan masyarakat dengan tingkat pekerjaan yang lebih mapan; tingkat
pengetahuan gizi mereka cukup baik dan juga uang bukan menjadi kendala bagi
mereka. Namun malnutrisi juga dapat menyerang masyarakat kelas atas ini dengan
life style (gaya hidupnya). Masyarakat kelas atas kerap mengadapan pesta,
sementara dalam pesta tersebut makanan yang disajikan pun jarang ada yang
memenuhi kebutuhan gizi. Hampir sama dengan kelas pekerja, tingkat kesibukan
pekerjaan yang tinggi juga kerap membuat mereka lupa makan, namun pada umumnya
mereka dengan mudah mengatasinya karena mereka sering cek kesehatan dan diberi
saran oleh dokternya.
Kemudian
ditilik dari variabel ras, orang kulit putih lebih dominan mengkonsumsi daging
sebagai makanan utama dan sayuran jarang dipilih sebagai menu makan. Kemudian
orang Asia putih, yang mengkonsumsi ikan setengah matang sebagai menu favorit
dan sayuran juga cukup dipilih sebagai menu makan. Kemudian pada orang Asia
seperti Indonesia, daging jarang dikonsumsi dan ikan pun hanya dikonsumsi
sebagian masyarakat, dan sayuran termasuk menu favoritnya karena mereka merasa
kurang puas jika makan tanpa sayuran.
Perbedaan penyakit di negara maju dengan
negara berkembang
Perbedaan
penyakit antara negara maju dengan negara berkembang tidak begitu berbeda, yang
berbeda terlebih hanya pada prosentase/ tingkat pengidapnya. Sebagai contoh,
Amerika sebagai negara maju mempunyai banyak penduduk pengidap obesitas.
Sementara itu, di Indonesia sebagai perwakilan negara berkembang, yang terjadi
adalah lebih parah yaitu terdapat juga masyarakat yang mengidap obesitas namun
juga tidak sedikit penduduk yang mengalami kekurangan gizi.
Perbedaan
yang cukup mencolok antara negara berkembang dengan negara maju terlihat dari
pelayanan kesehatan, tingkat pertumbuhan penduduk, maupun tingkat pendapatan
penduduk. Hal ini dapat dilihat dari artikel “Health System in Developing
Country : Anthony Hall” yang menanggapi para pembuat kebijakan di negara
berkembang yang memiliki beban kesehatan ganda, mendeskripsikan beban penyakit dengan
berpegang pada tingkat kelahiran dan kematian. Meliputi gambaran tentang sistem
kepedulian akan kesehatan di negara berkembang, diikuti dengan kecenderungan
pembiayaan dan penyerahan pelayanan kesehatan dan memperhatikan kebijakan yang
berkenaan dengan farmasi.
Pada
umumnya di negara berkembang tingkat pertumbuhan penduduknya relatif tinggi,
GNP perkapitanya rendah, standar tempat tinggal yang rendah, termasuk juga standar
kesehatan, pendidikan, perumahan dan sanitasi yang memprihatinkan menyebabkan
bibit penyakit mudah menjangkiti mereka. Pemukiman yang tidak teratur, terpola
dan terprogram menyebabkan penyakit mudah menyebar. Terlebih dengan keadaan
ekonomi yang lemah membuat mereka tidak mampu membiayai pengobatan di Rumah
Sakit. Pemerintah pun tidak mampu menyubsisi pengobatan karena APBN yang rendah
dan kalaupun memberikan subsidi, tingkat subsidinya cukup rendah.
Berbeda
dengan apa yang terjadi di negara maju, kesejahteraan baik dari segi pelayanan
kesehatan, perumahan dan pendidikannya sudah terpenuhi dengan baik. Tak heran
bahwa beban penyakit yang diderita masyarakat di negara berkembang dan di
negara berkembangpun berbeda. Dilihat dari segi pemukiman di negara berkembang
yang sangat memprihatinkan dan fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak
berjalan sebagaimana mestinya, penyakit yang dideritapun sesuai dengan keadaan
pemukiman tersebut, seperti penyakit menular, malaria, busung lapar, TBC,
Polio,dan sebagainya. Sedangkan dinegara maju notabene baik akan kesejahteraan
pelayanan kesehatannya namun tidak baik dalam mengelola pola makannya, penyakit
yang diderita seperti penyakit jantung, kolesterol, dan diabetes. Seperti yang
dijelaskan dalam artikel “Health System in Developing Country : Anthony Hall”
bahwa di negara berkembang penyakit yang banyak terjangkit adalah
penyakit-penyakit menular dan busung lapar. Sedangkan dinegara maju penyakit
yang banyak terjangkit adalah penyakit dalam (comunicable disease).
Namun
artikel ini tak sepenuhnya benar karena di negara berkembang seperti yang telah
dijelaskan di atas, masyarakatnya juga banyak yang mengidap penyakit yang
disebabkan pola makan. Seperti misalnya penyakit diabetes yang justru mayoritas
terjadi di negara berkembang (dua per tiga pengidap diabetes berasal dari
negara berkembang). Dan Indonesia dengan 5,7 juta penderita diabetes menjadi
negara keenam tertinggi dalam jumlah angka kejadian diabetes di bawah India,
Cina, AS, Pakistan, dan Jepang. [5]Kemudian
juga penyakit jantung koroner yang ddiidap oleh masyarakat di negara maju
maupun negara berkembang. Penyakit ii terjadi disebabkan oleh pola makan yang
tidak sehat, sehingga menyebabkan pembuluh darah menyempit karena timbunan
lemak, yang membuat jantung kekurangan oksigen. Berdasarkan Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) tahun 1972, penyakit kardiovaskuler masih di peringkat
ke-11 penyebab utama kematian di Indonesia. Tahun 1986 naik ke urutan ketiga. Dan
kemudian pada tahun 1992 dan 1995 berada di urutan pertama.[6]
Kebijakan
sosial untuk pola makan yang tidak sehat
Kebijakan
ini dirumuskan sesuai dengan penjelasan pada bagian pertama; hubungan variabel
sosiologis dengan pola makan. Variabel sosiologisnya adalah kesetaraan gender
(emansipasi wanita); kebijakan pekerja perempuan, tingkat pendidikan, jenis
pekerjaan, gaya hidup masyarakat, dan pelayanan kesehatan.
Kesetaraan
gender memang sangat diperlukan dalam negara yang menerapkan asas demokrasi
dalam berbangsa dan bernegara. Namun acapkali kesetaraan gender dianggap
sebagai sebuah proses untuk menyamakan peran dan kedudukan perempuan dengan
laki-laki di ruang publik. Padahal yang merupakan tujuan inti dari kesetaraan
gender itu bukanlah untuk menyetarakan kedudukan antara laki-laki dengan
perempuan, namun terlebih untuk memberikan keadilan bagi keduanya. Perempuan
mempunyai kebutuhan yang lebih dibandingkan laki-laki seperti misalnya hamil,
melahirkan, menyusui, maupun menstruasi. Oleh karena itu, kebijakan sosial yang
dibuat nantinya harus memperhatikan hak istimewa perempuan. Contoh kebijakan
yang dapat diambil seperti; memberikan cuti yang cukup untuk perempuan untuk
melewati fase kehamilan, melahirkan sampai menyusui demi terciptanya individu
(bayi) baru yang melewati masa sosialisasinya dengan tepat. Kemudian juga,
tingkat pendapatan harus disesuaikan dengan pekerjaannya, bukan didasarkan
jenis kelaminnya. Karena seringkali pendapatan perempuan didesain oleh
kebijakan pemerintah agar lebih rendah dari pendapatan laki-laki.
Kemudian
yang kedua tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan pada umumnya sejalan dengan
tingkat pengetahuan tentang gizi. Karena itu, dalam pendidikan formal, pengetahun
gizi harus diberikan secara intensif dan mendalam, agar masyarakat dapat
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, pendidikan pun harus di
subsidi agar seluruh lapisan masyarakat dapat menjangkaunya. Melalui pendidikan
ini pula gaya hidup masyarakat diluruskan agar sejalan dengan gaya hidup yang
sehat dan produktif. Kebijakan dalam pendidikan juga harus ditekankan bukan
hanya pada penguasaan materi, namun juga penerapanya dalam kehidupan, karena
selama ini kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan cenderung hanya
menekankan pada aspek penguasaan materi.
Sejalan
dengan itu, pendidikan dalam bidang studi kesehatan seperti kedokteran,
kebidanan, maupun kesehatan harus ditingkatkan. Karena selama ini kualitas
pendidikan kedokteran di Indonesia belum selengkap negara-negara maju, dan juga
biaya untuk menempuh pendidikan ini sangatlah mahal, yang membuat masyarakat
harus mempunyai banyak uang untuk menempati profesi dokter. Ini kemudian juga
berakibat pada membengkaknya biaya kesehatan (seorang dokter menganggap dirinya
telah menghabiskan biaya yang sangat besar untuk menjadi dokter dan karenanya
harus mendapat imbalan yang besar juga). Profesi dokter tak lagi sebagai
profesi pelayan masyarakat demi kemanusiaan namun untuk mengejar kekayaan
semata.
Pelayanan
kesehatan harus bersinergi dengan pendidikan, karena dengan mengetahui serta
mengaplikasikan gaya hidup sehat, biaya untuk pengobatan relatif kecil.
Kemudian juga, untuk menunjang kesehatan, pembelanjaan negara untuk kesehatan
juga perlu ditingkatkan. Dalam artikel “Health System in Developing Country:
Anthony Hall” juga disebutkan bahwa pembelanjaan untuk kesehatan tidak pernah
sesuai dengan kebutuhan yang ada. Di dalam artikel ini diterangkan bahwa pada
negara maju 88% total pembelanjaan yang disimpan di negara OECD, hanya untuk
memenuhi 15%nya penduduk yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Sangat kontras
dengan apa yang terjadi di negara berkembang di Asia, yaitu dari 60 % penduduk
yang membutuhkan pelayanan kesehatan, namun pembelanjaan untuk kesehatan
keseluruhan hanya mencapai 3,4%nya saja. Pertentangan serupa terjadi dibanyak
negara berkembang, seperti tidak adanya realisasi anggaran kesehatan untuk
rumah sakit dasar dan peralatan rumah
sakit yang canggih. Maka kebijakan pemerintah harus mendorong usaha-usaha
perbaikan pelayanan kesehatan, dan juga pada pemerataannya. Karena selama ini
(di Indonesia) sering terjadi pelayanan kesehatan di pusat yang sangat memadai
dan pelayanan kesehatan di daerah yang amat menyedihkan. Pemerintah pusat dalam
hal ini harus memberikan support baik APBN maupun dengan kebijakan nasional
untuk memacu daerah-daerah untuk meningkatkan fasilitas kesehatannya.
Penyuluhan
langsung pada masyarakat tentang penyakit-penyakit yang banyak didera
masyarakat pun memegang peranan yang penting. Seluruh stake holder mulai dari
masyarakat, mahasiswa, LSM, perusahaan dan lembaga pemerintah dapat dilibatkan
dalam menunjang kegiatan ini. Penyuluhan yang diberikan dapat dimulai dari
penjelasan penyakit, cara mengidentifikasi gejalanya, cara penanggulangannya
(pencegahan dan pengobatan) maupun meningkatkan kemampuan memelihara kesehatan,
serta motivasi membuat perubahan yang diperlukan dalam hal gaya hidup.
Kemudian
yang terakhir, manajemen dalam pelayanan kesehatan masyarakat pun harus
dipermudah, terutama bagi masyarakat kelas bawah. Karena banyak juga pasien
yang meninggal dirumah sakit sebelum mendapatkan perawatan karena proses
administrasinya yang bertele-tele. Selain itu, pencegahan penyakit dengan cara
vaksinasi (imunisasi) yang secara luas untuk mencegah penyakit seperti campak,
hepatitis, dan penyakit lainnya juga sangat penting untuk dilakukan. Ini
terutama karena biaya pencegahan penyakit lebih murah dari pengobatannya.
Posyandu sebagai sarana kesehatan yang dilakukan dengan melibatkan stakeholder
yang ada sudah bagus dan perlu ditingkatkan dan perlu pemerataan di seluruh
daerah.
Dengan
bersandar pada penjelasan di atas dapat dipahamilah bahwa kesehatan merupakan
faktor penting suatu bangsa, yang terkait baik dengan pembangunan ekonomi,
politik, sosial, maupun budaya. Indonesia pada saat ini tengah dihimpit segala
permasalahan yang berat dan juga rumit untuk dipecahkan. Beban pemerintah
sangatlah berat dalam menangani permasalahan ini, oleh karena itu untuk
mengatasinya peran pemerintah beserta kebijakannya saja tidak cukup, namun juga
memerlukan partisipasi aktif yang terintegrasi dan terkoordinasi dari semua
stake holder yang terlibat mulai dari pelayan kesehatan, tenaga medis,
mahasiswa, masyarakat umum, tokoh-tokoh masyarakat, sampai dengan para
pengusaha. Semua dilakukan semi terciptanya manusia yang sehat dan berkualitas
di Indonesia, dan bahkan di dunia..,
[1] http://www.koalisi.org/detail.php?id=408&m=2&sm=24,
di akses tanggal 20 desember 2007
[2] Malnutrisi adalah
istilah umum untuk suatu kondisi medis yang disebabkan oleh pemberian atau cara
makan yang tidak tepat atau tidak mencukupi. Malnutrisi selain berarti undernutrition
dapat juga berupa overnutrition. Lihat dr. M.Ikhsan Mokoagow: Menilik
Malnutrisi dari Sisi yang Berbeda, http://www.koalisi.org/detail.php?id=408&m=2&sm=24.
[3] http://202.155.5.44/index.php?option=articles&task=viewarticle&artid=297&Itemid=3,
di akses tanggal 20 desember 2007
[4] Sutrisno, Mudji. Cultural
Studies: Tantangan Bagi Teori-Teori Besar Kebudayaan. Penerbit Koekoesan.
Depok: 2007. hlm. 196.
[5] http://kompas.com/kompas-cetak/0309/07/iptek/548612.htm. diakses
pada tanggal 23 Desember 2007.
[6] www.gizi.net,
diakses pada tanggal 23 Desember 2007.
Comments
Post a Comment