Skip to main content

Resume The New rulers of The World-John Pilger

Terdapat banyak permasalahan pembangunan di Negara dunia ketiga yang dipaparkan dalam film The New Rulers of the World”, namun yang menjadi permasalahan utama yang ditekankan adalah globalisasi, yang digembor-gemborkan dapat menyatukan berbagai ras di dunia, namun malah menciptakan jurang pemisah yang sangat signifikan antara si kaya dan si miskin, baik antar negara (Negara maju dengan Negara dunia ketiga), maupun dalam intern negara (antara warga negara satu dengan warga negara yang lain).

Mungkin analisis film ini pada beberapa bagian kehilangan keakuratannya, yang tak lebih dikarenakan analisis dilakukan dengan hanya sekali menonton film tersebut. Namun di sini akan dicoba sebisa mungkin untuk menganalisa film ini secara tepat dengan keterbatasan yang ada.

Permasalahan yang di alami negara dunia ketiga adalah seperti utang negara dunia ketiga terhadap lembaga “bantuan”, yang secara tidak langsung mengakibatkan eksploitasi berlebihan oleh negara maju terhadap negara dunia ketiga yang hanya sedikit sekali memberikan keuntungan pada negara dunia ketiga, paham kapitalisme yang telah mengakar kuat pada negara maju yang kemudian disebarluaskan ke negara-negara dunia ketiga, globalisasi yang dianggap mampu mengurangi jarak kesenjangan antara negara maju terhadap dunia ketiga, yang dalam kenyataannya malah membuat negara maju semakin maju, sedangkan negara miskin semakin miskin. Serta dalam internal Indonesia pun dibahas dengan menunjukkan keotoriteran rezim ore baru serta KKN yang kerap terjadi di dalamnya, kesengsaraan rakyat Indonesia, serta minimnya perlindungan negara terhadap warga negaranya (dalam film ini ditunjukkan dengan memberikan contoh pada rendahnya gaji buruh pada perusahaan asing seperti Nike dan GAP yang notabene sebuah perusahaan yang maju di bidangnya dan mendapatkan laba yang begitu besar dari produksinya.

Terdapat tiga aktor penting dalam pembangunan, yaitu civil society, state, dan market. Di dalam film digambarkan sebuah keadaan dimana market lah yang memberikan arahan pembangunan kepada pemerintah, sedangkan peran civil society adalah sangat minimalis karena dibatasi oleh market dengan tangan state.

Dalam film tersebut ditunjukkan bahwa pada beberapa tahun setelah perang dingin, terciptalah lembaga “bantuan” seperti IMF dan World Bank yang bertujuan untuk mengatasi krisis ekonomi di Eropa, namun kemudian karena pada saat itu banyak negara-negara di Asia maupun di Afrika yang baru merdeka dan sedang akan membangun negaranya, lembaga “bantuan” keuangan itu pun mulai merambah ke wilayah ini. World Bank mengatakan, tujuannya adalah untuk membantu rakyat miskin. Namun secara sederhana dapat dikatakan sebagai sosialisme bagi si kaya dan kapitalisme bagi si miskin.


                                                                       
Ide dasar untuk membantu negara-negara dunia ketiga dengan cara memberikan hutang cukup baik, karena dengan bantuan ini diharapkan negara dunia ketiga dapat membangun negerinya dengan mencontoh negara-negara yang terlebih dahulu maju. Pembangunan negara dunia ketiga ini, yang berkaitan erat dengan Eropanisasi maupun Amerikanisasi negara dunia ketiga disebut sebagai modernisasi.
Indonesia pada awal kemerdekaannya (pada era orde lama) cenderung menentang masuknya lembaga “bantuan” tersebut dan juga meminimalisasi masuknya perusahaan-perusahaan asing sekalipun, yang dikarenakan presiden Indonesia saat itu (Soekarno) menganggap Indonesia akan dapat berkembang dengan tanpa kehadiran “bantuan” dari pihak luar (Indonesia dapat berdikari/ berdiri di atas kaki sendiri). Namun kemudian kekuasaan Soekarno ditumbangkan oleh Jendral Soeharto, yang dalam film ini diindikasikan didukung oleh Amerika dan Inggris karena Soekarno di anggap tidak bisa di ajak bekerjasama oleh mereka dan merasa Soeharto akan memberikan peluang pada mereka untuk melakukan intervensi Indonesia. Oleh karena itu pemerintahan Soeharto menggunakan teori modernisasi yang di dalamnya identik atau bahkan sarat dengan campur tangan pihak luar negeri.

Maka dapat dikatakan bahwa film ini menggambarkan pada masa orde baru, market dapat leluasa mendikte suatu negara (imperialisme baru) karena market (Lembaga donor) telah memberikan bantuan pada negara dengan persyaratan-persyaratan tertentu, yang cenderung merugikan rakyat kebanyakan, misalkan dengan membatasi atau bahkan melarang masyarakat berserikat (dilarangnya civil society untuk beraktivitas), yang kemudian mengakibatkan minimnya (demi menghindar dari menyebut tidak ada) social control, yang pada akhirnya mengantarkan Indonesia pada kehancuran.

Kehancuran tersebut digambarkan oleh film ini diawali dengan pemerintahan Soeharto yang bersifat otoriter yang telah mengakibatkan banyak korban (masyarakat yang di bunuh atau pun masyarakat yang telah menjadi tahanan politik karena pemikirannya ataupun aktivitasnya dianggap tidak sejalan dengan pemerintah/ dapat membahayakan eksistensi rezim) serta dengan menunjukkan sejumlah fakta yang mengindikasikan menguapnya ± 30 % bantuan yang diterima indonesia ke tangan para birokrat (Soeharto dan kroninya) yang kira-kira senilai 80 trilyun Rupiah!

Dari pengalaman orde baru tersebut dapat diambil pelajaran bahwa ternyata “bantuan” yang di berikan oleh negara maju tidak sepenuhnya murni, namun mengandung kepentingan-kepentingan tertentu seperti masuknya perusahaan-perusahaan asing, dan bahkan campur tangan pihak asing dalam pembuatan konstitusi. Hal ini lah yang kemudian disebut sebagai dependensi, atau lebih jelasnya modernisasi ternyata telah membawa negara-negara dunia ketiga terhadap masalah baru, yaitu ketergantungan terhadap negara maju yang disini dijelaskan baik dengan hutang maupun hal-hal lain. Kemudian pada tahun 1998 di Indonesia terjadi reformasi yang hampir menjadi revolusi total. Namun, usaha untuk mengganti rezim Soeharto yang otoriter mengorbankan banyak hal yang menyebabkan timbulnya krisis ekonomi di Indonesia yang relatif terjadi sampai saat ini. Krisis ini terjadi merata di seluruh daerah, bahkan di Ibu kota negara sekalipun. Krisis ini menimbulkan banyak dampak, yang secara khusus adalah bertambahnya pengengguran dan meningkatnya jumlah kemiskinan. Kemiskinan ini pun menimbulkan banyak dampak seperti penduduk yang mau bekerja apa saja dengan upah yang minim serta tanpa kesejahteraan sekalipun. Hal ini menurut film ini disebabkan oleh globalisasi yang tadinya bertujuan untuk mengurangi kesenjangan namun malah memperlebar kesenjangan (yang kaya tambah kaya sedangkan yang miskin tambah miskin).


Mengenai sistem dunia, yang pada dasarnya menganut pembagian negara menjadi tiga strata yaitu sentral, semi-pinggiran, dan pinggiran dalam film ini digambarkan dengan Amerika sebagai negara sentral dan Indonesia sebagai negara pinggiran. Amerika dan negara-negara Eropa menjadikan Indonesia dan negara dunia ketiga lainnya sebagai tempat memproduksi dikarenakan tenaga kerja yang melimpah dengan tanpa harus memberikan kesejahteraan pada pekerjanya. Dalam teori sistem dunia telah dijabarkan bahwa yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan negara pinggiran adalah dengan adanya momentum. Seperti halnya yang terjadi pada Korea Selatan yang memanfaatkan dana dari Amerika (dana sisa perang) dengan seefesien mungkin untuk membangun negaranya. Indonesia pun sebenarnya telah mendapatkan momentum yang cukup besar, yaitu dengan adanya kenaikan harga minyak dunia. Pada saat itu, Indonesia mendapatkan dana yang cukup besar. Namun dengan kerakusan elit yang sarat dengan KKN, dana tersebut akhirnya menguap tanpa arah maupun hasil. 

Review oleh Rizki Setiawan

Lihat filmnya disini 

Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...