Terdapat
banyak permasalahan pembangunan di Negara dunia ketiga yang dipaparkan dalam
film “The New Rulers of the World”, namun yang menjadi permasalahan utama yang
ditekankan adalah globalisasi, yang digembor-gemborkan dapat menyatukan
berbagai ras di dunia, namun malah menciptakan jurang pemisah yang sangat
signifikan antara si kaya dan si miskin, baik antar negara (Negara maju dengan
Negara dunia ketiga), maupun dalam intern negara (antara warga negara satu
dengan warga negara yang lain).
Mungkin analisis film ini pada beberapa bagian kehilangan keakuratannya, yang tak lebih dikarenakan analisis dilakukan dengan hanya sekali menonton film tersebut. Namun di sini akan dicoba sebisa mungkin untuk menganalisa film ini secara tepat dengan keterbatasan yang ada.
Mungkin analisis film ini pada beberapa bagian kehilangan keakuratannya, yang tak lebih dikarenakan analisis dilakukan dengan hanya sekali menonton film tersebut. Namun di sini akan dicoba sebisa mungkin untuk menganalisa film ini secara tepat dengan keterbatasan yang ada.
Permasalahan
yang di alami negara dunia ketiga adalah seperti utang negara dunia ketiga
terhadap lembaga “bantuan”, yang secara tidak langsung mengakibatkan eksploitasi
berlebihan oleh negara maju terhadap negara dunia ketiga yang hanya sedikit
sekali memberikan keuntungan pada negara dunia ketiga, paham kapitalisme yang
telah mengakar kuat pada negara maju yang kemudian disebarluaskan ke
negara-negara dunia ketiga, globalisasi yang dianggap mampu mengurangi jarak
kesenjangan antara negara maju terhadap dunia ketiga, yang dalam kenyataannya
malah membuat negara maju semakin maju, sedangkan negara miskin semakin miskin.
Serta dalam internal Indonesia pun dibahas dengan menunjukkan keotoriteran
rezim ore baru serta KKN yang kerap terjadi di dalamnya, kesengsaraan rakyat
Indonesia, serta minimnya perlindungan negara terhadap warga negaranya (dalam
film ini ditunjukkan dengan memberikan contoh pada rendahnya gaji buruh pada
perusahaan asing seperti Nike dan GAP yang notabene sebuah perusahaan yang maju
di bidangnya dan mendapatkan laba yang begitu besar dari produksinya.
Terdapat
tiga aktor penting dalam pembangunan, yaitu civil society, state, dan market.
Di dalam film digambarkan sebuah keadaan dimana market lah yang
memberikan arahan pembangunan kepada pemerintah, sedangkan peran civil society
adalah sangat minimalis karena dibatasi oleh market dengan tangan state.
Dalam
film tersebut ditunjukkan bahwa pada beberapa tahun setelah perang dingin,
terciptalah lembaga “bantuan” seperti IMF dan World Bank yang bertujuan untuk
mengatasi krisis ekonomi di Eropa, namun kemudian karena pada saat itu banyak
negara-negara di Asia maupun di Afrika yang baru merdeka dan sedang akan
membangun negaranya, lembaga “bantuan” keuangan itu pun mulai merambah ke
wilayah ini. World Bank mengatakan, tujuannya adalah untuk membantu rakyat
miskin. Namun secara sederhana dapat dikatakan sebagai sosialisme bagi si kaya
dan kapitalisme bagi si miskin.
Ide
dasar untuk membantu negara-negara dunia ketiga dengan cara memberikan hutang
cukup baik, karena dengan bantuan ini diharapkan negara dunia ketiga dapat
membangun negerinya dengan mencontoh negara-negara yang terlebih dahulu maju.
Pembangunan negara dunia ketiga ini, yang berkaitan erat dengan Eropanisasi
maupun Amerikanisasi negara dunia ketiga disebut sebagai modernisasi.
Indonesia
pada awal kemerdekaannya (pada era orde lama) cenderung menentang masuknya
lembaga “bantuan” tersebut dan juga meminimalisasi masuknya
perusahaan-perusahaan asing sekalipun, yang dikarenakan presiden Indonesia saat
itu (Soekarno) menganggap Indonesia akan dapat berkembang dengan tanpa
kehadiran “bantuan” dari pihak luar (Indonesia dapat berdikari/ berdiri di atas
kaki sendiri). Namun kemudian kekuasaan Soekarno ditumbangkan oleh Jendral
Soeharto, yang dalam film ini diindikasikan didukung oleh Amerika dan Inggris
karena Soekarno di anggap tidak bisa di ajak bekerjasama oleh mereka dan merasa
Soeharto akan memberikan peluang pada mereka untuk melakukan intervensi
Indonesia. Oleh karena itu pemerintahan Soeharto menggunakan teori modernisasi
yang di dalamnya identik atau bahkan sarat dengan campur tangan pihak luar
negeri.
Maka
dapat dikatakan bahwa film ini menggambarkan pada masa orde baru, market dapat
leluasa mendikte suatu negara (imperialisme baru) karena market (Lembaga donor)
telah memberikan bantuan pada negara dengan persyaratan-persyaratan tertentu,
yang cenderung merugikan rakyat kebanyakan, misalkan dengan membatasi atau
bahkan melarang masyarakat berserikat (dilarangnya civil society untuk
beraktivitas), yang kemudian mengakibatkan minimnya (demi menghindar dari
menyebut tidak ada) social control,
yang pada akhirnya mengantarkan Indonesia pada kehancuran.
Kehancuran
tersebut digambarkan oleh film ini diawali dengan pemerintahan Soeharto yang
bersifat otoriter yang telah mengakibatkan banyak korban (masyarakat yang di
bunuh atau pun masyarakat yang telah menjadi tahanan politik karena
pemikirannya ataupun aktivitasnya dianggap tidak sejalan dengan pemerintah/
dapat membahayakan eksistensi rezim) serta dengan menunjukkan sejumlah fakta
yang mengindikasikan menguapnya ± 30 % bantuan
yang diterima indonesia ke tangan para birokrat (Soeharto dan kroninya) yang
kira-kira senilai 80 trilyun Rupiah!
Dari
pengalaman orde baru tersebut dapat diambil pelajaran bahwa ternyata “bantuan”
yang di berikan oleh negara maju tidak sepenuhnya murni, namun mengandung
kepentingan-kepentingan tertentu seperti masuknya perusahaan-perusahaan asing,
dan bahkan campur tangan pihak asing dalam pembuatan konstitusi. Hal ini lah
yang kemudian disebut sebagai dependensi, atau lebih jelasnya modernisasi
ternyata telah membawa negara-negara dunia ketiga terhadap masalah baru, yaitu
ketergantungan terhadap negara maju yang disini dijelaskan baik dengan hutang
maupun hal-hal lain. Kemudian pada tahun 1998 di Indonesia terjadi reformasi
yang hampir menjadi revolusi total. Namun, usaha untuk mengganti rezim Soeharto
yang otoriter mengorbankan banyak hal yang menyebabkan timbulnya krisis ekonomi
di Indonesia yang relatif terjadi sampai saat ini. Krisis ini terjadi merata di
seluruh daerah, bahkan di Ibu kota negara sekalipun. Krisis ini menimbulkan
banyak dampak, yang secara khusus adalah bertambahnya pengengguran dan
meningkatnya jumlah kemiskinan. Kemiskinan ini pun menimbulkan banyak dampak
seperti penduduk yang mau bekerja apa saja dengan upah yang minim serta tanpa
kesejahteraan sekalipun. Hal ini menurut film ini disebabkan oleh globalisasi
yang tadinya bertujuan untuk mengurangi kesenjangan namun malah memperlebar
kesenjangan (yang kaya tambah kaya sedangkan yang miskin tambah miskin).
Mengenai
sistem dunia, yang pada dasarnya menganut pembagian negara menjadi tiga strata
yaitu sentral, semi-pinggiran, dan pinggiran dalam film ini digambarkan dengan
Amerika sebagai negara sentral dan Indonesia sebagai negara pinggiran. Amerika
dan negara-negara Eropa menjadikan Indonesia dan negara dunia ketiga lainnya
sebagai tempat memproduksi dikarenakan tenaga kerja yang melimpah dengan tanpa
harus memberikan kesejahteraan pada pekerjanya. Dalam teori sistem dunia telah
dijabarkan bahwa yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan
negara pinggiran adalah dengan adanya momentum. Seperti halnya yang terjadi
pada Korea Selatan yang memanfaatkan dana dari Amerika (dana sisa perang)
dengan seefesien mungkin untuk membangun negaranya. Indonesia pun sebenarnya
telah mendapatkan momentum yang cukup besar, yaitu dengan adanya kenaikan harga
minyak dunia. Pada saat itu, Indonesia mendapatkan dana yang cukup besar. Namun
dengan kerakusan elit yang sarat dengan KKN, dana tersebut akhirnya menguap
tanpa arah maupun hasil.
Review oleh Rizki Setiawan
Lihat filmnya disini
Review oleh Rizki Setiawan
Lihat filmnya disini
Comments
Post a Comment