Skip to main content

“Sertifikasi”

Pembahasan seputar sertifikasi cukup lucu untuk dapat membuat saya tertawa terbahak-bahak, namun juga cukup menyedihkan hingga dapat membuat saya menangis. Perdebatan seputar sertifikasi telah menampakkan kedigdayaannya yang mampu merambah semua kalangan. Sertifikasi merupakan hal yang kurang disukai kalangan proletariat, tanggapan serupa juga banyak di dukung oleh para cendekiawan dan sebagian lainnya sepaham dengan sertfikasi, namun pejabat pemerintahan serta kalangan elite telah menunjukkan dukungannya terhadap sertifikasi.

Sebelum membahas lebih jauh seputar sertifikasi, sebaiknya dilakukan penyamaan persepsi tentang sertifikasi agar tidak menimbulkan kerancuan. Yang dimaksudkan dengan sertifikasi dalam tulisan ini adalah pe-legitimasi-an terhadap seseorang atau sekelompok orang atas sebuah skill dengan proses dan metode tertentu. Ijazah dapat digunakan sebagai contoh, dengan mengikuti pendidikan di sekolah dasar dan mengikuti ujian kelulusan serta syarat-syarat lain yang mengiringinya maka seseorang akan mendapatkan Ijazah SD, inilah yang dalam wacana ini dinamakan sebagai Sertifikasi.

Dan juga sertifikasi sampai saat ini merupakan sebuah keharusan, karena dengan adanya sertifikat maka sesuatu hal akan menjadi legal. Kita tidak dapat dengan serta merta memandang seseorang yang tidak mempunyai sertifikat sebagai “yang tidak mempunyai kemampuan”, karena meski tanpa sertifikat bisa saja dia menjadi mampu karena belajar pada pendidikan informal maupun dari alam itu sendiri.

Kemudian hal ini dapat dikaitkan dengan persoalan tentang kemiskinan dan pengangguran yang sejak dulu kerap berkarat di negara-negara dunia ketiga, dan Indonesia adalah termasuk di dalamnya. Seseorang yang hanya memiliki ijazah SD di negara kita tentunya akan mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan disektor formal, atau jika difokuskan langsung yaitu untuk bekerja sebagai buruh pabrik yang nota bene pekerjaannya hanyalah membutuhkan skill yang rendah, hingga hanya dengan meluangkan sedikit waktu untuk mempelajarinya seseorang akan dapat dengan mudah dapat mengerjakannya. Permasalahan ini lah yang kemudian disebut S. Amin sebagai “hypertropi”, yaitu sebuah keadaan dimana negara telah memproduksi banyak SDM yang berkualitas namun yang dibutuhkan oleh pasar hanya sedikit. Dalam keadaan seperti ini tentunya sebuah negara akan mengalami stagnasi atau bahkan dapat mengalami kemunduran, yang terlihat dari banyaknya warga negara yang menghabiskan umurnya hanya untuk pendidikan, yang sebenarnya “tidak dibutuhkannya” dalam pekerjaan, terlebih ketika pendidikan yang digelutinya tak mampu memberikan keseimbangan antara pengetahuan dan kreatifitas untuk berkarya, atau ketika pendidikan yang diagungkan tidak mempunyai arahan yang jelas (lihat Dr. Zamroni dalam Paradigma Pendidikan Masa Depan).


Sebagai penutup, penulis memberikan saran agar tidak terlalu mengagungkan sertifikat karena pada saat ini telah banyak sertifikat yang diberikan pada individu yang tak memilki kemampuan seperti yang tertera di sertifikat, maka ada baiknya bila melihat seseorang bukan dengan title yang disandang, namun apa kemampuan yang dimilikinya. Namun jangan pula meremehkan sertifikat karena dengannya lah kita mendapatkan bukti autentik legitimasi.

Comments

  1. Saya TKI DI MALAYSIA
    Maaf sebelumnya jika lewat Tempat ini saya menceritakan kisah hidup saya niat saya hanyalah semata ingin berbagi tapi semua tergantung Anda percaya atau tidak yg jelasnya inilah kenyataannya...
    Syukur alhamdulillah kini saya bisa menghirup udara segar di indonesia karnah sudah sekian lama saya ingin pulang ke kampung halaman namun tak bisa sebab,saya harus bekerja di negri orang (Arab Saudi) karna ada hutang yang harus saya bayar di majikan yaitu 257 juta untuk uang indo namun saya tidak pusing lagi sebab kemaring saya di berikan Info oleh seseorang yang tidak saya kenal,katanya kalau mengalami kesulitan Ekonomi,Terlilit hutang silahkan minta bantuan sama
    KI BARONG di Nomor telfon 0852 8895 8775 di jamin bantuan beliau 100% …
    ATAU >>KLIK DISINI<<
    BANTUAN DARI KI BARONG
    1.PESUGIHAN
    2.TOGEL
    3. DANAH GHAIB
    4.PENGGANDAAN UANG
    5.UANG BALIK
    6.PEMIKAT
    7.PENGLARIS BISNIS (Jualan,Tokoh,warung)
    8.PERLANJAR DALAM BERBAGAI HAL
    Jadi saya beranikan diri menghubungi beliau dan menyampaikan semua masalah saya dan alhamdulillah saya bisa di bantu,kini semua hutang saya sama majikan di Saudi semua bisa terlunasi dan punya modal untuk pulang kampung,,,,
    Jadi buat yang pengen seperti saya silahkan hubungi KI BARONG di nomor 0852 8895 8775 Anda tidak usah ragu akan adanya penipuan atau hal semacamnya sebab saya dan yg lainnya sudah membuktikan keampuhan bantuan beliau kini giliran Anda trimahkasi….

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...