Skip to main content

SAATNYA PRESIDEN BERGELAR SARJANA

Oleh Rizki Setiawan

Presiden sampai saat ini di anggap sebagai kunci dari kondisi negara, yang membuat perdebatan mengenai rencana pengubahan kualifikasi calon presiden Republik Indonesia mendatang minimal harus bergelar sarjana tak hanya menarik perhatian masyarakat lapis atas, namun juga masyarakat menengah ke bawah.

Terlebih, sejarah kepresidenan Indonesia yang menunjukkan dari enam presiden hanya tiga orang presiden yang bergelar sarjana (50%), serta data statistik yang menunjukkan hanya 20% penduduk Indonesia yang menyelesaikan pendidikannya sampai sarjana, tidak dapat diambil sebagai tolak ukur dalam menentukan kualifikasi calon presiden. Karena diperlukan kajian yang lebih dalam mengenai hal tersebut.

Berbagai pihak telah memperlihatkan dukungan terhadap peningkatan kualifikasi capres tersebut karena merasa peran pendidikan cukup signifikan dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Menurut kelompok ini, jangankan dalam kualifikasi capres, untuk mengukur kemajuan suatu negara saja tak lagi hanya di ukur dari pendapatan perkapita, namun juga dengan indeks pembangunan manusianya, yang di dalamnya terdapat unsur pendidikan. Namun sebagian kalangan melakukan penolakan pengubahan tersebut, yang tak lain bertujuan untuk membela capres-capres yang dijagokan namun belum bergelar sarjana ataupun untuk membela demokrasi yang riil. Karena dalam demokrasi, kualifikasi seorang presiden selayaknya ditentukan oleh animo masyarakat.

Kemudian muncullah pernyataan bahwa seorang pemimpin tidaklah harus sarjana, namun yang penting adalah kemampuannya untuk memimpin. Pernyataan ini dapat terjawab dengan melihat kepemimpinan yang terhambat ketika tingkat pendidikan pemimpin lebih rendah dari bawahannya, yang memungkinkan kepentingan sebagian kalangan mempengaruhi kebijakan yang diambil pemimpin tersebut.

Kritik terhadap pendidikan memang telah banyak dilemparkan, seperti tidak jelasnya arah pendidikan serta keridakmampuan pendidikan dalam menyeimbangkan pengetahuan dan kreatifitas. Meski demikian, pendidikan maupun gelar kesarjanaan tidak dapat dengan serta merta di anggap rendah, karena merendahkan gelar kesarjanaan sama halnya dengan ungkapan pesimistik terhadap pendidikan.


Pengetahuan, kepemimpinan, maupun kecintaan terhadap negara memang tak hanya di dapat dengan mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi, namun juga didapatkan dari pendidikan informal maupun dari lingkungan. Akan tetapi, tingkat pendidikan formal seseorang dapat digunakan sebagai tolak ukur kemampuan seorang capres, karena mustahil untuk mengukur aspek-aspek pendidikan non formal capres. Lebih lanjut, persyaratan ini sangat mendukung untuk mendapatkan presiden yang berkualitas dan visioner.  Dengan demikian, sesuai tuntutan jaman, peradaban, serta globalisasi yang segera akan menjerat Indonesia pada perdagangan bebas mengharuskan pemimpin Indonesia berkualifikasi tinggi, yang salah satunya dengan mengharuskan capres berpendidikan minimal sarjana.

Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...