Skip to main content

Masih Pake CINTA? (Cinta bagian 2)

Cinta, satu kata berjuta makna, selalu absurd, definisinya selalu bersifat subjektif, dan bahkan mungkin saya yang menolak cinta pun masih bersifat subjektif? Cinta seringkali diartikan sebagai bayang-bayang lawan jenis yang kita sukai yang terus melayang terbawa mimpi dalam tidur.

Seperti reff lagu terbaru Maia; aku mau makan ku ingat kamu.., aku mau minum kuingat kamu.., cinta.., semua jadi serba kamu.., Namun, satu hal yang terus membayangi saya; “jika cinta itu memang suci, jika cinta memang hebat, kenapa juga cinta yang satu dapat menghancurkan cinta yang lain? Sebagai contoh kongkrit misalnya ketika seseorang yang tidak mempunyai perasaan cinta namun sudah siap menikahi pasangannya yang sangat mencintainya, namun saat itu pula datang seorang lain yang menimbulkan cinta dihatinya.., maka orang yang sangat mencintainya ditingkannya pergi bersama makhluk yang baru saja muncul dalam hidupnya, itukah cinta? Cinta yang lebih dulu tumbuh hancur karena cinta yang lain datang?


Akhh..,, sudahlah.., yang absurd tetap saja absurd, gak jelas. Ngapain juga saya masih mikir cinta, bukan sebaiknya kita memikirkan bagaimana kehidupan yang manusiawi dapat terwujud? mikir tetangga kita yang belum makan dua hari ini.., mikir sesama manusia yang tak punya tempat tinggal.., mikir nasib kawan kita yang dilanda kemiskinan.., mikir nasib saudara kita, yang juga manusia...,?

Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...