Skip to main content

“CINTA…..!?”

DISKUSI TENTANG CINTA[1]
Oleh: Rizki Setiawan

Permulaan diskusi

Terbetik sejarah perkembangan ide dari hampir seluruh lapisan mahasiswa yang menginginkan sebuah wadah untuk berdiskusi, sebuah diskusi yang bersifat ilmiah atau dibuat-buat saja agar terlihat ilmiah. Sebut saja tokoh ternama sosiologi seperti Jon Sis yang acap mengajak untuk berdiskusi dengan alih mengukuhkan keeksistensian mahasiswa, Yudho CS yang hampir tak pernah absen dalam sebuah diskusi jum’at malam “kenduri cinta”, mahasiswa malam yang serambi mabuk kerap berdiskusi meski tak jelas arahannya, serta banyak lagi kalangan yang menginginkan adanya sebuah forum diskusi yang bersifat intens. Untuk itu pada awal bulan ini diusahakanlah sebuah forum diskusi informal yang diharapkan dapat menjadi sebuah diskusi yang intens dan dapat menambah tingkat keeksistensian mahasiswa. Selain itu, diharapkan pula diskusi ini dapat diikuti semua kalangan tanpa memperhatikan disiplinaritas keilmuannya, agar dapat memperluas atau setidaknya dapat menambah cakrawalanya.

Cinta mungkin sebuah tema diskusi yang akan selalu hangat hampir di seluruh kalangan. Untuk itu, untuk membuka forum diskusi kamis sore dipilihlah tema cinta, yang diharapkan mampu membakar libido kalangan akamedisi untuk hadir. Selain itu, terdapat banyak sudut pandang yang berbeda dalam hal membahas cinta yang membuat diskusi tentang cinta selalu ramai dengan perdebatan.

Sebelum masuk dalam pembahasan tentang cinta, diharapkan pemahaman bahwa tulisan ini hanyalah sebuah argumen yang jauh dari tulisan yang akademis. Kemudian yang tak kalah penting diharapkan adanya pemahaman bahwa pembicara bukanlah “yang tahu akan segalanya, dan paling benar”, namun hanyalah berfungsi sebagai pemicu pemikiran-pemikiran kritis konstruktif yang membuat semua yang berdiskusi tetap mempunyai perspektif yang tersendiri.


Pemaknaan Cinta

Pemaknaan akan cinta adalah berbeda pada setiap individu, yang membuat kata cinta dalam topik diskusi ini diberi titik yang cukup panjang disertai tanda tanya, yang kemudian diakhiri dengan tanda seru. Bila kita bertanya perihal cinta kepada seseorang, cinta seringkali mendapatkan pujian oleh yang menganggap cinta adalah eksis dalam alur kehidupan, maupun penolakan karena anggapan bahwa cinta bersifat absurd. Bahkan setelah sekian kali saya menjalin hubungan dengan beberapa perempuan, tak ada satu pun dari mereka yang dapat menjawab pertanyaan saya tentang alasan mencintai saya dengan pasti. Oleh karena itu saya mencoba menjabarkan pemahaman cinta yang pernah ada serta dibumbui oleh pengalaman empirik dan usaha untuk mengerti konsep cinta yang berada di kalangan luas.

Pemahaman konsepsi cinta pada bangsa timur menurut saya merupakan hasil refleksi pemikiran pada “tragedi penyembelihan Isma’il” oleh Ibrahim. Dimana dalam “tragedi” ini dilukiskan bagaimana the Big Other mencoba untuk menguji ketaatan Ibrahim kepada-Nya, yang kemudian terbukti Ibrahim menyembelih anaknya yang kemudian tergantikan oleh domba. Namun sebagian yang lainnya menganggap bahwa konsep cinta yang ada di seluruh bagian dunia adalah berdasarkan moralitas kristiani barat yang disebarluaskan melalui novel, film, puisi, lagu, dan media lainnya. Konstruksi konsep cinta pada moralitas kristiani barat diadopsi dari konsep kasih (love), yang dapat diungkapkan dalam bentuk rasa sayang (care), yang didasarkan pada loyalitas dan kepercayaan. Moralitas kristiani barat ini berasal dari runtutan kejadian dimana the Big Other menurunkan anaknya yang tunggal untuk mati dan disalibkan demi untuk menghapuskan dosa manusia. Meskipun tidak diungkapkan secara eksplisit, kedua pengalaman sejarah tersebut sedikit banyak telah membawa konsepsi cinta, terlebih pada konsep cinta platonik. Dalam konsep cinta seperti ini cinta bersifat sangat abstrak yang membuatnya hampir tak terjangkau. Dalam konsep ini, cinta bersifat kekal, tak mengharap balas, subjektif, tidak dapat direkayasa, yang kesemuanya didominasi oleh pengorbanan.

Kemudian pada awal munculnya ilmu pengetahuan, Empedokles menyatakan dua unsur utama di alam semesta, cinta (philia) dan benci (neikos), yang setelah diinterpretasi oleh Plato menjadi ketertarikan dan penolakan.

Menurut Friedrich W. Nietzsche, apa yang dinamakan cinta tak lain adalah egoisme yang terselubung. Egoisme tersebut biasanya ditutupi oleh ekspresi sok peduli atau pura-pura rela berkorban. Sebagai contoh misalnya ketika seorang laki-laki yang melarang kekasihnya untuk keluar malam, apakah itu kepedulian? Mungkin saja begitu, namun saya pikir itu tak lebih didominasi oleh kehendak untuk berkuasa. Dia (laki-laki dalam contoh) ingin membuat kekasihnya takut keluar malam, dan bila keluar malam hanya dengan dirinya, atau dapat juga ketakutan akan kehilangan kekasihnya. Dalam hubungan percintaan, menurut Nietzsche terjadi penguasaan yang bukan hanya pada tubuh dan pikiran namun lebih jauh terhadap hasrat orang lain. Penguasaan hasrat mencerminkan penguasaan dari keseluruhan individu, baik dari aktivitas maupun kehidupannya. Cinta menuntut individu untuk mengarahkan hasratnya kepada yang dicintai, menuntut keseluruhan jiwa, raga dan kehidupan tanpa syarat dan tanpa mempertimbangkan kondisi apa pun.

Pendapat Nietzsche lalu diperkuat oleh pendapat Foucault bahwa cinta telah menampakkan bentuknya sebagai pengekangan terhadap tubuh, karena tubuh yang menjadi hak preogratif individu telah dikuasai penuh. Selain itu, lembaga, dan organisasi masyarakat yang didalamnya terdapat aturan-aturan dan norma-norma juga telah mengkonsepsikan cinta secara hampir seragam, yang kemudian menormalisasi penyimpangan (dalam hal ini adalah cinta) yang terjadi dalam masyarakat. Dari sini dapat kita lihat bahwa Foucault menganggap Cinta merupakan bentuk kekuasaan yang abstrak.

Jean Paul Sarte mempunyai pendapat yang sejenis dengan Nietzsche, menurutnya orang lain merupakan pembatas kebebasan dan peruntuh eksistensi. Hubungan antar subjek tidak mungkin terjadi, yang ada selalu hubungan saling mengobjekkan. Hubungan dalam cinta pun demikian, setiap individu akan menampakkan subjektivitasnya dihadapan orang lain yang dianggapnya sebagai objek.

Absurditas Cinta

Orang seringkali membuat ideal-ideal tertentu pada apa yang disebut-sebut sebagai cinta. Cinta sering diimpikan sebagai sesuatu yang harus ada dalam sebuah hubungan sepasang individu. Hubungan yang tidak didasari oleh cinta dianggap sebagai sebuah hubungan material (nafsu, materi, maupun stigma negatif lainnya). Perjodohan yang terjadi pada masa Siti Nurbaya pun dianggap bukan sebagai sebuah hubungan yang dilandasi cinta, namun diharapkan lambat laun akan tercipta cinta di dalamnya. Apakah ini bukanlah sebuah absurditas cinta tersendiri? Inilah yang dinamakan komitmen. Hubungan yang didasarkan cinta akan menampakkan sisi buruknya ketika seseorang yang telah membuat idealisasi cinta mengalami benturan dengan realita yang terjadi dalam keseharian. Orang tersebut lalu berkata apakah ini cinta? Berakhir tidak sesuai harapan? Apa cinta yang saya bangun adalah salah? apakah saya harus membangun idealisasi cinta yang baru?, dan masih banyak serentetan pertanyaan tanpa akhir yang tak terjawab. Idealisasi cinta yang dilakukan oleh semua orang tak akan menemui titik temu yang dikarenakan sifat cinta itu sendiri yang absurd.

Asumsi “Saya” tentang “cinta”

Cinta telah menampakkan berbagai bentuk idealisasinya, yang dimulai dengan tanpa syarat, tanpa mengenal kondisi, tanpa memperhatikan kehadiran individu lain, tanpa memperhatikan lingkungan, membutuhkan pengorbanan, ketulusan, dan serentetan panjang idealisasi lain yang mengiringi. Menurut saya hubungan yang didasari cinta akan menemuai kendala ketika seseorang terbentur oleh hal-hal material. Sabagai contoh, ada “cinta segitiga” yang terjadi di kampus. Brata yang mencintai Moren karena moren adalah seorang wanita yang penuh perhatian, cerdas, dan “sedikit manis”. Sedangkan Wiliam, yang juga mencintai Moren karena moren penuh perhatian dan juga kaya. Pada umumnya jika mendasarkan asumsi pada konsep cinta pada masyarakat kebanyakan, tentunya Moren akan lebih memilih Adi sebagai kekasihnya dikarenakan cinta yang dimiliki Adi tidak bersifat material, dari pada cinta William yang berdasarkan materi (kekayaan). Namun apakah cinta yang dimiliki William salah? Apakah cinta tak memperbolehkan seseorang memikirkan masa depan?. Padahal, harapan William dengan kekayaan Moren tak lebih untuk menjaga taraf kehidupannya, agar anak-anak yang diproduksinya nanti dapat bersekolah, maupun hidup dengan layak.

Kemudian saya mengambil contoh kegagalan hubungan dalam cinta yang terparah, yaitu suicide yang dilakukan oleh individu yang gagal dalam membina hubungannya. Atau pada kasus pengorbanan yang dilakukan individu untuk membahagiakan kekasihnya, namun malah membuat dirinya sendirinya berada dalam kesusahan. Saya tidak menapik hubungan yang terjadi antar sepasang individu, namun yang saya tolak adalah sebuah keharusan untuk melandasi hubungan tersebut dengan cinta. Hal ini terlebih berdasarkan keabsurdan cinta yang membuatnya sulit terdefinisikan. Bagaimana kita dapat melandaskan sesuatu kepada sesuatu yang tidak jelas bentuknya, sementara yang jelas hanyalah idealisasi yang menurut saya terbentuk dari proses penghegemonian media kebdayaan yang ada.

Sebuah hubungan yang terjadi antar sepasang individu cukup didasarkan pada komitmen dan loyalitas. Kemudian timbullah pertanyaan, apakah hubungan yang tidak dilandaskan cinta akan langgeng? Tentu saja, meskipun tak ada jaminan untuk itu. Hubungan yang didasarkan oleh komitmen dan loyalitas dengan sendirinya akan memenuhi tuntutan-tuntutan untuk mewujudkan keberlangsungan hubungan. Tidak ada obsesi final dalam hubungan semacam ini, isi dari komitmen juga dapat bermacam-macam pada setiap hubungan, begitu pula bentuk loyalitas yang dapat juga bersifat seperti “cinta” yang dapat berbentuk pengorbanan. Dalam relasi semacam ini seorang individu pun tidak dipaksakan untuk menjerumuskan dirinya dalam keterkekangan, yang ada hanyalah kekuatan untuk menjaga komitmen. Dan bila komitmen tersebut dilanggar oleh salah satu individu, individu yang lain dapat mengingatkannya atau bahkan menuntutnya untuk tetap menjaga komitmen. Yang paling terpenting adalah usaha untuk menjaga keeksistensian harapan hubungan tersebut akan berlangsung dengan baik. Dan walau pun ketika hubungan tersebut harus berakhir, tak akan ada yang dirugikan karena keretakan hubungan tersebut hanyalah didasari oleh ketidaktaatan individu dalam menjaga komitmen yang telah di bangun. Dengan demikian diharapkan terjadinya sebuah hubungan tanpa keterpaksaan, keterindasan, yang disebabkan dominasi.

NB;
bila anda memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis anda, Tak perlu bertanya-tanya apakah ada cinta didalamnya, just make a deal with her and offer a commitment and so do it!

Hasil diskusi “yang menarik”; “CINTA= Rangkuman kata”

Setelah melalui serangkaian panjang diskusi selama beberapa jam, terkuaklah sisi awal mula cinta. Hanya statement yang diberikan Zambrong lah yang menggugah pikiran saya, karena didasari oleh argumen yang jelas. Cinta menurutnya, adalah sebuah rangkuman dari segala perasaan yang ada di dalam hati, namun akan menjadi sebuah frase panjang yang mungkin tak pernah akan selesai. Cinta adalah sebuah kata singkat, misalnya saja ketika seseorang berucap “aku cinta padamu”, yang bisa saja berasal dari; “kamu cantik, makanya aku ingin menjadi pasanganmu” atau “kamu pintar, perhatian, suka menolong, bersahaja, tak mudah marah, ........, ........, ......., makanya aku ingin menjadi pasanganmu. Jadi, Cinta lebih pada sebuah rangkuman dari semua kata, yang bila diungkapkan akan membosankan pendengarnya, dan itu juga tidak harus dilakukan.


Cinta Pada Pandangan Pertama

Cinta pada pandangan pertama di sini cenderung saya maknai sebagai ketertarikan dengan lawan jenis, yang disertai keinginan untuk menjadikan dia sebagai pasangan dalam menjalani kehidupannya. Sering timbul pertanyaan, apakah cinta pada pandangan pertama itu ada, ataukah cuma rekayasa seseorang untuk membuat sebuah hubungan secara cepat dan lebih romantis?. Tentunya kita dapat menggunakan berbagai perlengkapan teoretis kita untuk menjawab ini.

Posisi saya di sini adalah untuk mendukung keberadaan cinta pada pandangan pertama itu. Untuk itu saya menggunakan Lacan untuk menjawabnya, karena Lacan telah memberikan fondasi tentang bagaimana ketaksadaran menentukan tindakan manusia. Lacan mengungkapkan bahwa sejak mengalami keterputusan dengan ibu dan dunia, manusia merasa dirinya sebagai sebuah identitas yang tak lengkap. Anak yang tadinya menyatu dengan dunia tiba-tiba terlempar keluar dari dunia. Kejadian ini selain memberikan kesadaran tentang dirinya sebagai individu, juga memberikan kesadaran keterputusan integrasinya dengan dunia, yang membuatnya tak pernah lengkap. Kesadaran akan keterputusannya itu membuat dirinya senantiasa termotivasi untuk melengkapi dirinya.

Berbagai cara dilakukan untuk membuat manusia merasa lengkap, meskipun tidak ada pelengkap yang akan membuatnya berdiri sebagai manusia yang utuh. Namun begitu, Ia akan terus melengkapi dirinya dengan berbagai cara. Fantasi merupakan cara untuk mewujudkan itu; manusia selalu membayangkan apapun yang akan membuat dirinya sebagai entitas tunggal yang lengkap. Motivasi menuju subjek yang lengkap ini oleh Lacan disebut sebagai desire (hasrat). Hasrat tak akan pernah selesai, karena memang manusia tak akan pernah mendapati dirinya yang utuh. Khayalan manusia yang tak terbatas menggambarkan bagaimana ketakterbatasan hasrat. Di satu sisi, hasrat menjauhkan diri manusia dari realitas, dan disisi lain hasrat mengubah kenyataan agar lebih dekat dengan fantasi. Tetapi kenyataan yang sudah mendekati fantasi tidak pernah memenuhi hasrat, sebab bukan itu yang dimaui hasrat.

Mulai dari situ kita dapat mengambil bahwa manusia selalu berkhayal menemui dirinya yang lengkap. Dalam hal ini, manusia selalu berupaya mencari orang lain yang cocok dalam fantasinya untuk membuat dirinya merasa lengkap. Sepanjang hidupnya manusia mencari bentuk ideal seseorang yang sesuai dengan fantasinya untuk membuat dirinya utuh. Berbagai fantasi mulai dari bentuk tubuh, gaya bicara, bahasa tubuh, dan berbagai elemen lain menjadi pertimbangannya untuk memilih subjek mana yang cocok untuk dia gunakan sebagai pelengkap dirinya. Sebagai perumpamaan, misalnya seseorang yang pendiam, akan merasa lengkap dengan pasangan yang sangat aktif, atau bisa saja sebaliknya, dia akan merasa lengkap dengan pasangan yang pendiam juga. Sebagai contoh lain, dia yang telah berkutat dengan kitab suci ajaran agama tertentu merasa lengkap dengan orang yang sesuai dengan ajaran agamanya, dan berbagai contoh lain.

Maka tidak heran jika ada seseorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Karena sebenarnya idealisasi fantasi ini tidak terbentuk secara instant saat dia menemukan pasangannya, namun melalui proses identifikasi yang panjang. Proses ini memang tak pernah terungkap karena dia melakukannya dalam ketaksadaran. Hasrat manusia dengan fantasinya bekerja secara otomatis dalam ketaksadaran untuk menemukan orang lain yang sesuai. Namun begitu, cinta pada pandangan pertama yang telah ditemukannya pasti juga tidak akan membuat dirinya merasa lengkap. Mungkin selama beberapa waktu dia akan merasa dirinya lengkap, namun setelah itu hasrat dalam dirinya akan merasa bahwa bukan itu yang dicarinya. Ini lah yang membuat Ia kemudian mencari pelengkap yang lain.

Sebagai kesimpulan, cinta, baik itu yang ditemukan melalui proses yang panjang maupun secara instant tidak akan pernah kekal. Hasrat dalam diri manusia akan terus mengeksplorasi cinta-cinta lain yang dianggap akan membuatnya lebih lengkap. Oleh karena itulah sedari awal saya mengungkapkan bahwa suatu hubungan haruslah dilandasi komitmen yang  kuat guna membuat hubungan tersebut bertahan. Karena ketika kita mengarahkan hasrat kita bukan pada cinta itu sendiri, tapi pada komitmen, hasrat dalam diri kita akan selalu mencari komitmen-komitmen lain yang memungkinkan kita merasa diri kita menjadi lengkap. Oleh karena itu hasrat yang berfantasi dengan komitmen tidak akan meluluhlantakkan hubungan, melainkan terus bertransformasikan komitmen dengan berbagai bentuknya yang lain untuk membuat suatu hubungan lebih berarti.




[1] Makalah pertama Diskusi KamisSore UNJ

Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...