Skip to main content

CITY of GOD

Review Film City of God / CIDADE DE DEUS (KOTA TUHAN)
oleh; Rizki Setiawan


Cidade de deus adalah sebuah kota yang terletak di Rio de Jenero, Brazil. Cidade de deus,- yang disebut juga kota tuhan (dimana Tuhan telah melupakan penghuni kota tersebut),- adalah proyek perumahan pemerintah untuk tempat penampungan warga miskin dan warga yang terkena musibah (tepatnya adalah warga tunawisma). 

Di Cidade de deus dapat kita jumpai sekolah, namun tidak terdapat kesadaran masyarakat akan pendidikan. Selain itu dapat kita jumpai juga aparat keamanan (Polisi), namun mereka pun tidak berfungsi sebagaimana fungsinya (menjaga keamanan). Hal ini menyebabkan kota Cidade de deus menjadi kota yang penuh dengan tindak kriminal, baik perampokan, pembunuhan, Narkoba, maupun pemerkosaan, serta kejahatan lainnya. Selain itu kota tuhan juga juga bebas dari hukum negara, karena hukum yang berlaku di kota tuhan adalah hukum yang dibuat oleh pemimpin geng yang menguasai kota tersebut.

PANDANGAN NEGARA KESEJAHTERAAN TERHADAP KOTA TUHAN
Di kota tuhan terdapat jaminan kesejahteraan untuk warganya (seperti tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, maupun keamanan). Maka dapat dikatakan Brazil menggunakan konsep negara kesejahteraan. Namun usaha pemerintah untuk menjamin kesejahteraan penduduknya hanya berjalan setengah-setengah. Hal ini dapat dilihat dari usaha pemerintah untuk membangun pemukiman namun tanpa listrik, sekolah tanpa penyadaran akan pentingnya pendidikan, aparat keamanan yang tidak menjaga keamanan, dan hal-hal lainnya. Yang kemudian pada akhirnya menimbulkan kekacauan.

PROBLEMA YANG TERJADI PADA KOTA TUHAN
Masalah utama yang terjadi di kota tuhan adalah kesulitan yang di alami masyarakatnya untuk melakukan mobilisasi vertikal kelas ketingkat yang lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat dari sulitnya mencari pekerjaan (meskipun ada lapangan pekerjaan, namun menurut warga kota tuhan pekerjaan yang mereka dapatkan tidak akan membuatnya sukses), serta pemberian stereotipe oleh masyarakat dari daerah lain kepada masyarakat kota tuhan (stereotipe masyarakat kota tuhan adalah masyarakat miskin, tidak berpendidikan, kriminil, serta stereotipe lainnya).

Hal tersebut diperparah dengan hilangnya kepercayaan masyarakat kota tuhan terhadap Tuhan. Hal ini mungkin disebabkan oleh keadaan mereka yang tak kunjung berubah, sehingga mereka menganggap Tuhan telah melupakan mereka. Dengan tidak adanya kepercayaan terhadap Tuhan itu mereka semakin tidak terkendali,menghisap ganja dan menghirup kokain. Mereka kemudian terbuai oleh Narkoba, yang membuat mereka melakukan segala cara untuk mendapatkan Narkoba, serta melakukan semua hal dibawah alam sadar karena Narkoba.

Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat kota tuhan dengan masyarakat dari kota lainnya juga sangat berbeda. Kesenjangan ekonomi tersebut membuat masyarakat kota tuhan cenderung untuk melakukan tindak kriminal, dan bahkan anak kecil pun sudah melakukan tindak kriminal. Hal ini juga diperparah dengan aparat keamanan (Polisi) yang tidak menegakkan hukum (Polisi dapat dikendalikan dengan uang), yang membuat hukum negara tak lagi berlaku (yang berlaku adalah hukum yang di buat oleh pemimpin geng yang terkuat).



Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...