Skip to main content

Anarkisme

KATA “anarkisme” sebagai sebuah konsep sering kali disalahartikan oleh masyarakat baik mayarakat umum, media, pemerintah, dan bahkan di kalangan akademisi,- sebagai suatu prinsip yang berkaitan dengan sesuatu yang bersifat destruktif. Mungkin hal ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang anarkisme. Maka di sini kembali dicoba untuk dijelaskan perihal anarkisme. Kata anarki berasal dari bahasa Yunani kuno άυαρχος (anarchos/anarchein), yang tersusun dari άυ (tidak) + άρχος (pemimpin atau ketua). Jadi anarkisme berarti tidak adanya pimpinan, tidak adanya pemerintahan. Etimologi kata ini menandai hal yang khas dari anarkisme; penolakan terhadap kebutuhan akan otoritas tersentral atau negara tunggal, satu-satunya bentuk pemerintahan yang kita kenal sampai saat ini. Kaum anarkis bukanlah menolak konsep pemerintahan, namun gagasan akan suatu tatanan berkuasa yang menuntut dan menghendaki kepatuhan warganya (atau kalau perlu, nyawa warganya).[1]

Negara itu seperti rumah jagal raksasa atau kuburan maha luas, di mana semua aspirasi riil, semua daya hidup sebuah negeri masuk dengan murah hati dan suka hati dalam bayang-bayang abstraksi tersebut, untuk membiarkan diri mereka dicincang dan dikubur.”[2]
Lalu apa yang dilakukan kaum anarkis dalam pemilihan umum? Pada umumnya kaum anarkis menjagokan golput sebagi pilihan politiknya. Sentralisasi kekuasaan pemerintah di negara demok-rasi liberal di-pandang sebagai hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kendati dipilih lewat pemilu. Mencoblos setiap sekian tahun, menerima hukum dan kewajiban baru apapun yang diberlakukan dipandang sebagai contoh betapa rapinya kekuasaan dipertahankan di balik samaran demokrasi. Kaum anarkis selalu mendambakan sistem perwakilan yang bersifat percobaan, yang bisa dimintai pertanggungjawaban dan siap digantikan.[3] 

Ragam Anarkisme 
Anarkisme secara politik terbagi menjadi dua; anarkisme individualis dengan anarkisme komunis. Anarkisme Individualis bersifat liberal dengan pahamnya tentang kebebasan, toleransi, dan hak-hak individu. Max Stirner, salah satu penganut anarkisme individualis menjagokan egoisme sebagai cara untuk mereguk dan memperluas hidup. Memupuk kesejahteraan dan mencintai sesama misalnya, dilakukan karena kita memang menginginkannya, bukan karena seharusnya berbuat demikian. Namun kemudian Marx membantah pendapat Stirner; menganggap individu semata-mata sebagai individu berarti melupakan daya sosial yang justru turut membentuk pemahaman kita tentang apa arti menjadi individu. 

Yang kedua adalah Anarkisme komunis. Anarkisme komunis mirip dengan komunisme tradisional, perbedaannya adalah kaum anarkis berpendapat bahwa negara tetap menjadi penubuhan struktur kekuasa-an otoriter dalam bentuknya yang sama persis. Hal ini bertentangan dengan sifat non-hirarki komunisme. Selain itu ada yang menarik,- primitivisme yang anti-otoritarian,- yang mengaku anarkis, namun juga condong ke individualisme ekstrem kanan seperti halnya anarko-kapitalisme. Golongan ini menganggap tekhnologi telah lepas kendali dari pembuatnya sendiri, yang mengakibatkan ia harus dihancurkan. Golongan ini sepertinya melupakan bahwa teknologi itu benda mati, yang menjadi masalah adalah individu dibelakangnya.[4] 

Terdapat banyak lagi varian yang menjadi cabang anarkisme, seperti anarko-sindikalisme, anarko-feminisme, dan yang lainnya yang dapat diakses lebih jauh di wikipedia.com.

Anarkisme Tidak Sudi Produktif 

Bagi Marx, alienasi terjadi pada seseorang saat pekerjaan mereka membuatnya merasa terasing dari dirinya sendiri dan dari komunitas sosial lebih luas yang membentuk konteks hakiki bagi pekerjaan yang bermakna. 

Dengan tekanan kapitalisme, produksi dipacu demi keuntungan dan bukan kebutuhan, dan mayoritas pekerja tidak diperbolehkan menikmati hasil kerjanya dan diakui atas itu. Apa yang mereka hasilkan dibuat menjadi komoditas belaka yang tak berarti buat mereka. Atau dengan kata lain cara kerja yang berlaku sekarang telah merampas diri manusia dari dunia sosialnya. Kaum anarkis tidak malas atau bahkan kehilangan semangat juang, namun mereka kritis dalam bertindak. Maka anarkisme berusaha merubah pandangan Marx dengan sebuah alternatif. Anarkisme ingin menekankan betapa busuknya sebagian besar pekerjaan dan betapa rutinitas hidup telah disubordinasikan oleh tuntutan kerja. ‘Waktu luang’ kian lama kian diisi oleh persiapan berangkat kerja, belajar untuk kerja, belanja untuk kerja, berdandan untuk kerja, menempuh perjalanan pergi dan pulang kerja, dan yang paling banyak memulihkan kebugaran dari kerja agar bisa kerja lagi. Kaum anarkis ingin menumbuhkan kesadar-an bahwa membongkar eksploitasi berarti merubah cara orang bekerja. Bentuk-bentuk struktur organisasi otoriter di tempat kerja harus dirubah demi mewujudkan angan-angan akan masa depan yang egaliter.[5]

Selain itu Marx juga punya istilah lain, ‘fetisisme komoditi’ yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana proses reifikasi komoditas berkurang dalam privatisasi diri. Fetisisme komoditi tercermin dalam realitas ketika individu dapat melakukan sesuatu tanpa pamrih kepada sanak keluarga dan sahabat karib (memberi hadiah pada anggota keluarga maupun sahabat tidak dipandang seperti halnya praktek tukar menukar dalam pasar), namun tidak dengan orang asing maupun rekan kerjanya.[6] 

Produktifitas untuk penguasa, untuk pemerintah maupun struktur otoriter lainnya dihapuskan karena kaum anarkis bekerja untuk dirinya sendiri dan untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Dalam pandangan mereka, individu dan masyarakat merupakan satu kesatuan yang utuh. Dalam aplikasinya, Anarkisme menjalankan semua bentuk yang dijalankan pemerintah saat ini secara swakelola. Pemerintahanan maupun perusahaan dikelola dengan manajemen Federalis. Pemerintahan lokal dijalankan oleh komite-komite, dan kordinasi antara yang satu dengan yang lain sangat kuat. Tak ada pemilikan pribadi, toko, kafe, pabrik, sepeda motor, taksi, bus, bahkan kotak semir sepatu pun telah dikolektivikasi. Buruh diakui akan hasil kerjanya dan gajinya dinaikkan dan kenaikkan gaji tersebut tidak menjadi masalah karena motif mencari untung telah dihapuskan dan gaji tinggi yang diberikan pada eksekutif telah disetop. Tak ada sikap merendahkan diri, ucapan basa-basi menghilang, semua diperlakukan dengan sederajat. Kuatnya kesadaran moral dan budi pekerti membuat tugas administrasi ini tak seberapa semrawut sebagaimana yang dibayangkan.[7]


oleh; Rizki Setiawan dan Yogi Suryana Latif
dimuat pada buletin DKS NEWS EDISI III/agustus/07


[1] Sean M. Sheehan, ANARKISME, Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan, Marjin Kiri; Jakarta, 2007 hal 1-2. 
[2] Mikhail A.bakunin,”The Paris Commune and the Idea of the State”2002, dalam wikipedia.com
[3] Sean M. Sheehan, op.cit, hal 30-31. 
[4] Lebih jauh lihat www. Primitivism.com atau manifesto unabomber yang tersedia di berbagai situs.
[5] Op.Cit,halaman 73-76.
[6] ibid, halaman 77-78.
[7] ibid, halaman 100-105.

Comments

Popular posts from this blog

Hasil kajian baru teori modernisasi

Resume dari buku Suwarsono dan Y. So Alvin. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Hasil kajian baru teori modernisasi menampakkan dirinya pada akhir dekade 1970-an. Pemerhati teori modernisasi pada saat itu mulai menguji kembali berbagai asumsi dasar teori modernisasi. Berikut adalah landasan berpijak teori modernisasi baru; Pertama, hasil baru kajian modernisasi berasumsi bahwa nilai-nilai tradisional dan modern dapat saling mempengaruhi dan bercampur satu sama lain. Disamping itu, generasi ini mencoba menunjukkan bahwa sistem nilai tradisional dapat memberikan sumbangan positif yang kemudian mengarahkan peneliti kajian modernisasi untuk memberi perhatian lebih pada nilai-nilai tradisional. Kedua, karya baru ini tidak lagi bersandar teguh pada analisa yang abstrak dan tipologi, namun lebih cenderung memperhatikan kasus-kasus nyata dan juga memperhatikan faktor sejarah. Ketiga, sebagai akibat dari perhatiannya terhadap sejarah dan an...

Bank Kaum Miskin (Grameen Bank)

Review buku Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) oleh Rizki Setiawan Komite Nobel Norwegia pada tahun 2006 lalu memutuskan Profesor Muhammad Yunus dan Grameen Bank mendapat Nobel perdamaian. Maka Grameen Bank sebagai gerakan pemberantasan kemiskinan sangat relevan untuk digunakan sebagai landasan teori dalam skripsi ini. Grameen Bank merupakan salah satu contoh real peran aktor dalam pembangunan, namun begitu di sini lebih ditekankan pada bagaimana struktur kemiskinan dalam masyarakat dapat dibongkar. Muhammad Yunus adalah dekan Fakultas Ekonomi Chittagog University di Bangladesh yang resah akan ketidakmampuan ilmu ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan. Dengan itu dia memilih “pandangan mata cacing” guna mempelajari kemiskinan dari jarak dekat. Kemudian dia melepaskan jubah akademisnya dan lalu bergaul dengan bergaul dengan orang miskin dan realitas kemiskinan desa Jobra yang bertetangga dengan universitas tempat Ia mengajar. Kaum miskin telah mengajari ilmu ekonomi yang benar...

Prostitusi Dipandang dari Teori Strukturasi Anthony Giddens

Oleh Rizki Setiawan “Aku bebas hanya ketika semua orang lain di sekelilingku –baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama bebasnya. Kebebasan orang lain, alih-alih membatasi atau membatalkan kebebasanku, justru sebaliknya merupakan kondisi dan konfirmasi yang diperlukannya. Aku menjadi bebas dalam pengertiannya yang sejati hanya karena kemerdekaan orang lain, begitu rupa sampai semakin banyak jumlah orang bebas di sekelilingku, makin dalam dan makin besar serta makin intensif kemerdekaan mereka, maka makin dalam dan makin luas pula kemerdekaanku.” -Mikhail Bakunin [1] Prostitusi sampai saat ini telah dianggap sebagai momok yang memalukan hampir oleh seluruh masyarakat di dunia, terutama Indonesia. Pandangan masyarakat terhadap prostitusi telah memiliki ambiguitas tersendiri, yang nampak dari stigma-stigma negatif yang sangat kental yang terlanjur melekat pada prostitusi. Prostitusi dalam makna harfiahnya adalah aktivitas seksual (tanpa nikah) yang telah dipersiapkan de...